Selasa, 17 Januari 2017 | 21.58 WIB
KiniNEWS>Nasional>Ekonomi>Mendag Minta Importir Tambah Lahan Tanam Tebu

Mendag Minta Importir Tambah Lahan Tanam Tebu

Reporter : Fadilah | Jumat, 16 September 2016 - 14:29 WIB

IMG-17339

Mendag ketika sidak ke Pasar Grogol. (Ist)

Jakarta, kini.co.id – Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita meminta agar para importir gula membuat perjanjian dengan pemerintah. Perjanjian yang dimaksud adalah perjanjian memperluas lahan tanam tebu. Jadi setiap kali importir melakukan impor, ada penambahan lahan tanam tebu di negeri ini.

Intiplasma ini memang memakan waktu, namun hal seperti ini bagus kedepannya karena ada tujuan komitmen. Dimana setelah itu ada target yang jelas dan kurun waktu yang pas.

“Rencana ini sudah kita bicarakan dengan importir gula,” tutur Enggar, di Pasar Grogol, Jakarta Barat, Jumat, (16/9/2016).

Diakuinya untuk ekspansi ke arah tersebut, sangatlah tidak mudah. Karena mencari lahan yang masih subur dalam kondisi modern saat ini cukup sulit.

“Jadi kita paling akan garap yang sekiranya potensi lahannya memungkinkan,” kata Enggar.

Dengan adanya wacana tersebut, diharapkan dapat meningkatkan produksi gula tebu ditanah air. Dengan demikian bisa memperbaiki kesejahteraan petani tebu.

(Baca juga: Sidak Pasar, Mendag Sebut Harga Masih Stabil)

Sebagai informasi bahan baku gula rafinasi, yaitu gula mentah (raw sugar) untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri masih mengandalkan impor. Tahun ini impor gula mentah untuk bahan baku gula rafinasi telah ditetapkan sebanyak 3,2 juta ton.

Kuota impor untuk tahun ini telah diputuskan dalam rapat koordinasi terbatas di Kantor Menko Perekonomian beberapa waktu lalu.

Impor raw sugar ini berasal dari 3 negara, yaitu Brasil, Australia, dan Thailand. Ketiga negara ini merupakan eksportir utama raw sugar ke Indonesia. Selain itu, Brasil, Australia, dan Thailand juga produsen utama raw sugar di dunia bersama Amerika Serikat, India, Uni Eropa, Kuba, dan Afrika Selatan.

Kenaikan kuota impor raw sugar setiap tahun ditetapkan sebesar 5%. Padahal rata-rata pertumbuhan industri makanan dan minuman berkisar 7% per tahun. Sehingga industri makanan dan minuman kadang kesulitan mendapat gula rafinasi.

Editor: Fatimah

KOMENTAR ANDA
Berita Nasional Terkini Lainnya
Komisi III Akan Panggil Kapolri Terkait Aduan FPI
Peristiwa - Selasa, 17 Januari 2017 - 21:43 WIB

Komisi III Akan Panggil Kapolri Terkait Aduan FPI

Komisi III DPR berjanji akan menindaklanjuti pengaduan yang disampaikan pimpinan Front Pembela Islam terkait dugaan penyalahgunaan jabatan yang dilakukan Kapolda ...
Habib Rizieq Beberkan Insiden Bandung kepada Komisi III
Peristiwa - Selasa, 17 Januari 2017 - 21:21 WIB

Habib Rizieq Beberkan Insiden Bandung kepada Komisi III

Pimpinan GNPF-MUI dan FPI mengadukan beberapa persoalan kepada Komisi III DPR yang akhir-akhir mencuat, salah satunya terkait insiden penyerangan yang ...
Gempa 5,6 SR di Sabang tak Berpotensi Tsunami
Nasional - Selasa, 17 Januari 2017 - 20:56 WIB

Gempa 5,6 SR di Sabang tak Berpotensi Tsunami

Laman www.bmkg.go.id menyebutkan gempa bumi mengguncang Aceh dan Sabang. Goncangan sekuat 5,6 SR itu tak berpotensi tsunami. Bunyi dalam pernyataan ...
Usai Diperiksa KPK, Saipul Jamil Nyanyi
Peristiwa - Selasa, 17 Januari 2017 - 19:00 WIB

Usai Diperiksa KPK, Saipul Jamil Nyanyi

Usai menjalani pemeriksaan sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap kepada Panitera Pengganti Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara (Jakut), Rohadi yakni ...
Slamet Kaget, Mayat di Depan Warungnya
Peristiwa - Selasa, 17 Januari 2017 - 17:40 WIB

Slamet Kaget, Mayat di Depan Warungnya

Tepat di teras warung milik Slamet, di Jalan Raya Siman, Desa Kepuhrubuh, Kecamatan Siman, Ponorogo, geger karena penemuan sesosok mayat. ...
Komnas HAM Minta Pemerintah Bina Ormas Arogan
Nasional - Selasa, 17 Januari 2017 - 17:12 WIB

Komnas HAM Minta Pemerintah Bina Ormas Arogan

Belakangan ini banyak organisasi masyarakat (ormas) yang melakukan aksi arogan. Karena hal tersebut, banyak pihak yang mengusulkan agar pemerintah membubarkan ...