Rabu, 22 Februari 2017 | 22.09 WIB
KiniNEWS>Nasional>Ekonomi>Mendag Minta Importir Tambah Lahan Tanam Tebu

Mendag Minta Importir Tambah Lahan Tanam Tebu

Reporter : Fadilah | Jumat, 16 September 2016 - 14:29 WIB

IMG-17339

Mendag ketika sidak ke Pasar Grogol. (Ist)

Jakarta, kini.co.id – Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita meminta agar para importir gula membuat perjanjian dengan pemerintah. Perjanjian yang dimaksud adalah perjanjian memperluas lahan tanam tebu. Jadi setiap kali importir melakukan impor, ada penambahan lahan tanam tebu di negeri ini.

Intiplasma ini memang memakan waktu, namun hal seperti ini bagus kedepannya karena ada tujuan komitmen. Dimana setelah itu ada target yang jelas dan kurun waktu yang pas.

“Rencana ini sudah kita bicarakan dengan importir gula,” tutur Enggar, di Pasar Grogol, Jakarta Barat, Jumat, (16/9/2016).

Diakuinya untuk ekspansi ke arah tersebut, sangatlah tidak mudah. Karena mencari lahan yang masih subur dalam kondisi modern saat ini cukup sulit.

“Jadi kita paling akan garap yang sekiranya potensi lahannya memungkinkan,” kata Enggar.

Dengan adanya wacana tersebut, diharapkan dapat meningkatkan produksi gula tebu ditanah air. Dengan demikian bisa memperbaiki kesejahteraan petani tebu.

(Baca juga: Sidak Pasar, Mendag Sebut Harga Masih Stabil)

Sebagai informasi bahan baku gula rafinasi, yaitu gula mentah (raw sugar) untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri masih mengandalkan impor. Tahun ini impor gula mentah untuk bahan baku gula rafinasi telah ditetapkan sebanyak 3,2 juta ton.

Kuota impor untuk tahun ini telah diputuskan dalam rapat koordinasi terbatas di Kantor Menko Perekonomian beberapa waktu lalu.

Impor raw sugar ini berasal dari 3 negara, yaitu Brasil, Australia, dan Thailand. Ketiga negara ini merupakan eksportir utama raw sugar ke Indonesia. Selain itu, Brasil, Australia, dan Thailand juga produsen utama raw sugar di dunia bersama Amerika Serikat, India, Uni Eropa, Kuba, dan Afrika Selatan.

Kenaikan kuota impor raw sugar setiap tahun ditetapkan sebesar 5%. Padahal rata-rata pertumbuhan industri makanan dan minuman berkisar 7% per tahun. Sehingga industri makanan dan minuman kadang kesulitan mendapat gula rafinasi.

Editor: Fatimah

KOMENTAR ANDA
Berita Nasional Terkini Lainnya
Lion Air Buka Rute Baru Solo-Kuala Lumpur
Ekonomi - Rabu, 22 Februari 2017 - 19:07 WIB

Lion Air Buka Rute Baru Solo-Kuala Lumpur

Maskapai Penerbangan Lion Air akan membuka dua rute baru dari Solo ke Kuala Lumpur, Malaysia dengan frekuensi terbang sebanyak satu ...
Aparat Keamanan Harus Ambil Sikat dengan Iwan Bopeng
Nasional - Rabu, 22 Februari 2017 - 17:40 WIB

Aparat Keamanan Harus Ambil Sikat dengan Iwan Bopeng

Anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta, Abdurrahman Suhaimi meminta aparatur keamanan segera mengambil sikap atas aksi intimidasi Fredy Tahuney alias Iwan ...
Kapolda Metro Jaya Bantah Kriminalisasi Ulama
Nasional - Rabu, 22 Februari 2017 - 16:28 WIB

Kapolda Metro Jaya Bantah Kriminalisasi Ulama

Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Polisi M Iriawan mengklaim tak pernah melakukan kriminalisasi para ulama. Berbeda dengan tuduhan pimpinan Front ...
Mendagri Rela Dipecat Demi Ahok, Ini Kata DPR
Politik - Rabu, 22 Februari 2017 - 15:52 WIB

Mendagri Rela Dipecat Demi Ahok, Ini Kata DPR

Sikap Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahjo Kumolo yang tidak menggubris status hukum Ahok sebagai tersangka penistaan agama menuai komentar dari ...
Sinabung Awas, 15 Gunung Lainnya Waspada
Peristiwa - Rabu, 22 Februari 2017 - 15:10 WIB

Sinabung Awas, 15 Gunung Lainnya Waspada

Gunung-gunung api di Indonesia hingga saat ini masih menggeliat. Bahkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) saat ini ada ...
Pembayaran BPJS Kini Bisa di Super Indo
Ekonomi - Rabu, 22 Februari 2017 - 14:53 WIB

Pembayaran BPJS Kini Bisa di Super Indo

PT Lion Super Indo menjalin kerjasama dengan PT Bank Mandiri Tbk untuk bisa menyediakan layanan jasa pembayaran iuran Badan Pelaksana ...