Kamis, 23 Maret 2017 | 09.09 WIB
KiniNEWS>Nasional>Nasional>Ini Modus Baru ABK Asing Maling Ikan di Perairan Indonesia

Ini Modus Baru ABK Asing Maling Ikan di Perairan Indonesia

Reporter : Fadilah | Kamis, 13 Oktober 2016 - 10:20 WIB

IMG-17787

Menteri Susi. (kininews/ist)

Jakarta, kini.co.id – Pasca gencarnya Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) gencar melakukan pemberantasan illegal fishing di Indonesia, masih saja ada terendus indikasi pencurian ikan di wilayah perairan Indonesia oleh kapal-kapal asing dengan modus menggunakan kapal-kapal nelayan lokal.

Hal ini diduga melalui pengusaha Indonesia yang menjadi agen kapal, yang kemudian membuat perusahaan dengan nama baru karena perusahaan mereka sudah masuk daftar hitam.

Kemudian pemilik nama baru tersebut membeli kapal-kapal lokal mikik nelayan untuk menangkap ikan di perairan Indonesia. Namun, Anak Buah Kapal (ABK) yang dipekerjakan merupakan orang-orang asing yang memilki KTP Indonesia.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti mengungkapkan, baru-baru ini tim PPNS Pangkalan PSDKP Bitung menangkap pihak-pihak yang menggunakan modus seperti itu. Dimana dari 8 kapal yang ditangkap, terdapat 2 kapal berbendera Indonesia menggunakan ABK berkebangsaan Philipina, namun memiliki KTP Indonesia.

“KTP itu diduga palsu,” katanya di Jakarta, Kamis, (13/11/2016).

Susi berujar berdasarkan hasil temuan, ada 11 ABK KM D’VON terbukti telah menggunakan e-KTP. Parahnya lagi e-KTP tersebut dikeluarkan oleh Dinas Catatan Sipil Kota Bitung.

Selain itu, ada juga 10 ABK KM Triple D-00 menggunakan KTP yang dikeluarkan oleh Dinas Catatan Sipil Kota Bolaang Mongondow Timur dan 1 ABK menggunakan KTP yang dikeluarkan oleh Dinas Catatan Sipil Kota Sorong.

Atas dasar itu, Susi menghimbau kepada Pemerintah Daerah (Pemda) untuk tidak mengijinkan dan memfasilitasi pemberian KTP Indonesia kepada Anak Buah Kapal (ABK) asing.

“Lalu, kepada para nelayan ini juga tolong diberi tahu, umumkan oleh media, untuk mereka juga segera menyerahkan diri supaya kita bisa deportasi kembali ke Filipina,” tandasnya.

Editor: Ade

KOMENTAR ANDA
Berita Nasional Terkini Lainnya
Ini Daftar Saksi Yang Akan Dihadirkan Pada Sidang Lanjutan e-KTP
Hukum - Kamis, 23 Maret 2017 - 08:58 WIB

Ini Daftar Saksi Yang Akan Dihadirkan Pada Sidang Lanjutan e-KTP

Sidang ketiga kasus korupsi pengadaan Kartu Tanda Penduduk berbasis elektronik (e-KTP) akan kembali digelar hari ini, Kamis (23/3/2017) di Pengadilan ...
Putusan PTUN Soal Reklamasi Akan Digunakan KPK Usut Korupsi
Hukum - Kamis, 23 Maret 2017 - 08:53 WIB

Putusan PTUN Soal Reklamasi Akan Digunakan KPK Usut Korupsi

Putusan Pengadilan Tinggi Urusan Agama (PTUN) akan dijadikan KPK sebagai pintu masuk kembali mengusut dugaan korupsi di reklamasi teluk Jakarta.Hal ...
Dokumen Sengketa Pilkada Raib, Ketua MK Akan Tindak Tegas Pelaku
Peristiwa - Rabu, 22 Maret 2017 - 17:01 WIB

Dokumen Sengketa Pilkada Raib, Ketua MK Akan Tindak Tegas Pelaku

Publik digegerkan dengan menghilangnya dokumen sengketa Pilkada Dogiayi, Papua di Mahkamah Konstitusi.Hal ini jelas menjengkelkan, mengingat beberapa kasus sengketa pilkada ...
Belum Kembalikan Mobil Kepresidenan, SBY: Masih Diperbaiki
Peristiwa - Rabu, 22 Maret 2017 - 16:33 WIB

Belum Kembalikan Mobil Kepresidenan, SBY: Masih Diperbaiki

Publik heboh membicarakan mobil dinas yang belum dikembalikan Mantan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).Pasalnya, kendaraan dinas Presiden Jokowi sempat ...
Fahri Hamzah Sebut KPK Melakukan Kekonyolan Telanjang
Hukum - Rabu, 22 Maret 2017 - 16:19 WIB

Fahri Hamzah Sebut KPK Melakukan Kekonyolan Telanjang

Wakil Ketua DPR, Fachri Hamzah menegaskan namanya disebut dalam sidang kasus suap pajak PT EK Prima (EKP) adalah sebuah kekonyolan.Fahri ...
Taksi Online Akan Dikenakan Pajak, Pengamat: Undang-undangnya Mana ?
Nasional - Rabu, 22 Maret 2017 - 16:13 WIB

Taksi Online Akan Dikenakan Pajak, Pengamat: Undang-undangnya Mana ?

Pengamat Transportasi, Azas Tigor Nainggolan mempertanyakan Undang-undang terkait pengenaan pajak terhadap transportasi online. Hal tersebut merespon statment pemerintah yang sering ...