Rabu, 28 Juni 2017 | 05.31 WIB
KiniNEWS>Nasional>Peristiwa>Ini Kronologis Versi Polisi Aksi Bela Islam II yang Berakhir Ricuh

Ini Kronologis Versi Polisi Aksi Bela Islam II yang Berakhir Ricuh

Senin, 7 November 2016 - 17:10 WIB

IMG-18299

Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Awi Setiyono memberikan keterangan pers terkait aksi Bela Islam II yang berakhir ricuh (KiniNews/Ist)

Jakarta, kini.co.id – Aparat Kepolisian menyebutkan bahwa apa yang dilakukan pihaknya dalam menangani aksi Bela Islam II di Istana Negara, Jumat (4/11) lalu sudah sesuai dengan prosedur dengan meukul mundur para demonstran yang dinilai mulai tidaak kondusif dan karena melebih batas waktu aksi pukul 18.00 WIB.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Awi Setiyono menjelaskan detik-detik demonstrasi di depan Istana Merdeka yang berujung bentrokan fisik antara beberapa demonstran dan aparat keamanan.

Awi mengatakan setelah sholat Jumat, massa mulai berbondong-bondong menuju Istana. Namun sebelumnya sejak pukul 11.00 WIB masa juga sudaah mulai berdatangan.

Sebelum massa longmarch dari Masjid Istiqlal ke Istana Merdeka, aparat kepolisian dan tentara sudah siaga. Pada pukul, 13.50 WIB, muncul sikap anarkis yang pertama dari arah massa ormas Islam. Beberapa orang terlihat melemparkan benda-benda keras ke arah polisi.

Untuk meredam emosi massa, polisi dan tentara melantunkan asmaul husna.

“Pada pukul 14.41 WIB, di depan Istana Merdeka, polisi kembali dilempari botol air mineral oleh oknum demonstran. Bahkan, sebagian massa berusaha mendekati polisi dengan cara merusak kawat berduri,” kata Awi dalam keterangan persnya di Mapolda Metro Jaya, Senin (7/11).

Kata Awi, massa mulai melakukan lemparan kedua kalinya. Kemudian polisi mengumandangkan adzan dan mengajak salat Ashar. Upaya ini dalam meredam ketegangan dengan cara-cara persuasif.

Selanjutnya, pada pukul 15.47 WIB demonstran yang berada di barisan depan kembali melempari polisi. Pukul 15.58 WIB, perwakilan ormas Islam dikawal Kapolda Metro Jaya Inspektur M. Iriawan dan Pangdam Jaya Mayor Jenderal Teddy Lhaksmana untuk masuk ke Istana dan diterima Wakil Presiden Jusuf Kalla dan sejumlah menteri.

“Perwakilan minta masuk. Kita anter sampai depan Istana,” kata Awi.

Demonstrasi, lanjut Awi seharusnya sudah dan bubar pukul 18.00 WIB karena undang-undang menyatakan demikian. Tetapi ternyata tidak dituruti dan masih bertahan.

“Pada pukul 18.14 WIB, menurut pamantauan CCTV di sisi barat, justru terlihat sejumlah demonstran mengoleskan pasta gigi di sekitaran mata yang menandakan mereka siap-siap jika nanti polisi memakai gas air mata,” tegasnya.

Masih kata Awi, pantaun CCTV, sebagian sebagian demonstran terlihat menghalangi massa yang lain yang ingin menyerang anggota polisi.

“Ini sesama massa memang ada yang menghalangi upaya untuk menyerang polisi. Ada upaya-upaya melakukan penyerangan, tapi dihadang massa lain. Kelihatannya ada pro dan kontra,” kata Awi.

Kemudian, sekitar pukul 19.10 WIB, sebagian demonstran mulai nampak beringas dan melakukan menyerang polisi dengan mamakai bambu dan batu.

“Karena diserang terus, terpaksa polisi menembakkan gas air mata untuk meredam aksi agar tak berlanjut rusuh. Ada tiga kali tahapan yang dilakukan polisi sebelum menembakkan gas air mata,” ujarnya.

Awi menambahkan, tembakan gas air pertama dilakukan pada pukul 19.33 WIB. Sehingga mereka berlarian. Tembakan gas air mata gelombang kedua pada pukul 19.41 WIB dan pukul 19.48 WIB kembali melakukan tembakan gas air mata.

“Upaya ini dalam memukul mundur sekelompok demonstran yang dilakukan aparat keamanan namun dibalas dengan aksi perusakan pada pukul 19.53 WIB,” jelasnya.

Pada pukul 20.01 WIB, sebagian demonstran membakar beberapa kendaraan aparat keamanan. Dan sekitar pukul 21.15 WIB, kekacauan yang dibuat sekelompok demonstran mulai mereda.

Kata Awi, Kapolri Jenderal Tito Karnavian ketika itu memerintahkan pasukan untuk mundur.”Kapolri dan kapolda naik panggung untuk menghentikan tembakan gas air mata,” kata dia.

Editor: Fatimah

KOMENTAR ANDA
Berita Nasional Terkini Lainnya
Pertemuan GNPF-MUI dengan Presiden Tak Pengaruhi Kasus Habib Rizieq
Hukum - Selasa, 27 Juni 2017 - 23:38 WIB

Pertemuan GNPF-MUI dengan Presiden Tak Pengaruhi Kasus Habib Rizieq

Polda Metro Jaya menyatakan pertemuan antara GNPF-MUI dengan Presiden Jokowi beberapa waktu lalu, tidak lantas mempengaruhi penanganan kasus yang menjerat ...
Presidium MRI Bantah Fitnah Tommy Winata Soal Pertemuan GNPF MUI-Presiden
Politik - Selasa, 27 Juni 2017 - 23:00 WIB

Presidium MRI Bantah Fitnah Tommy Winata Soal Pertemuan GNPF MUI-Presiden

Ketua Presidium Musyawarah Rakyat Indonesia (MRI) Yudi Syamhudi Suyuti membantah dirinya memfitnah Tommy Winata dan Artha Graha Perduli (AGP) terkait ...
ASDP Catat Jumlah Penyebrangan Jawa ke Sumatera Naik 12,4 Persen
Ekonomi - Selasa, 27 Juni 2017 - 22:09 WIB

ASDP Catat Jumlah Penyebrangan Jawa ke Sumatera Naik 12,4 Persen

PT Angkutan Sungai Danau dan Penyebrangan (ASDP) Indonesia Ferry (Persero) mencatat selama arus mudik, total angkutan yang disebrangkan dari Jawa ...
GNPF-MUI- Alumni 212 Pecah Kongsi ?
Politik - Selasa, 27 Juni 2017 - 19:27 WIB

GNPF-MUI- Alumni 212 Pecah Kongsi ?

Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI dan Presidium Alumni 212 diduga pecah kongsi paska tim GNPF-MUI melakukan pertemuan dengan Presiden ...
KH Bachtiar Nasir:  Tak Ada Pembahasan Khusus Saat Bertemu Presiden
Peristiwa - Selasa, 27 Juni 2017 - 15:46 WIB

KH Bachtiar Nasir: Tak Ada Pembahasan Khusus Saat Bertemu Presiden

Ketua GNPF-MUI, KH Bachtiar Nasir, mengaku tidak tak ada pembahasan khusus yang dibicarakan pihaknya saat bertemu dengan Presiden Jokowi pada, ...
GNPF-MUI Bantah Ngemis Bertemu Presiden
Peristiwa - Selasa, 27 Juni 2017 - 15:20 WIB

GNPF-MUI Bantah Ngemis Bertemu Presiden

Berbagai tudingan miring terhadap langkah GNPF-MUI mulai dari mengemis, masuk angin hingga ada udang dibalik batu yang menggelar pertemuan dengan ...