Jumat, 20 Januari 2017 | 06.23 WIB
KiniNEWS>Nasional>Ekonomi>Semakin Banyak Industri Rokok, Semakin Hancur Indonesia

Semakin Banyak Industri Rokok, Semakin Hancur Indonesia

Reporter : Fadilah | Selasa, 20 Desember 2016 - 15:44 WIB

IMG-19374

Ilustrasi

Jakarta, kini.co.id – Indonesia akan mendapatkan bonus demografi, yaitu jumlah usia angkatan kerja (15-64 tahun) mencapai sekitar 70%, sedangkan 30% penduduk yang tidak produktif (14 tahun ke bawah dan usia diatas 65 tahun) pada tahun 2020-2045.

Bonus demografi adalah satu fenomena dimana struktur penduduk sangat menguntungkan dari sisi pembangunan karena jumlah penduduk usia produktif sangat besar sedangkan proporsi usia muda sudah semakin kecil dan proporsi usia lanjut belum banyak.

“Kita masuk ke tahap sejarah bangsa yang paling penting, banyak usia produktivitas,” ucap Ekonom Senior dari Universitas Indonesia (UI), Emil Salim dalam workshop bertajuk ‘Harga Rokok Dilema Pembangunan dan Kualitas Hidup’, di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Selasa, (20/12/2016).

Menurut Emil, bonus demografi ini dapat menjadi anugerah bagi bangsa Indonesia untuk menjadi negara maju di tahun 2045 nanti. Dengan syarat generasi muda dari segi pendidikan dan kesehatannya harus berkualitas.

Namun lanjutnya, hal tersebut hanya bisa menjadi sebuah angan karena hisapan rokok. Pasalnya konsumsi rokok di Indonesia mayoritas perokoknya berasal dari masyarakat miskin dan menyasar pemuda di Indonesia.

“Celakanya industri rokok menembak sasaran remaja. Nikotin adalah hal yang paling bahaya bagi pengembangan otak. Jadi yang dijual oleh industri rokok adalah kecanduan. Semakin banyak industri rokok, semakin hancur Indonesia,” ujarnya.

Kata dia, tingginya konsumsi rokok di Indonesia lantaran hingga kini harga rokok per bungkusnya masih sangat murah dibandingkan negara-negara lainnya di Asia Tenggara. Hal ini disebabkan karena pemerintah belum berani menaikan harga rokok.

Emil juga mengkritiki sikap pemerintah yang dianggap telah keliru dalam hal produksi rokok. Dia menilai pemerintah cenderung hanya memerhatikan penerimaan negara dan abai terhadap kesehatan masyarakat.

“Cara berpikir yang mungkin keliru adalah cara berpikir yang hanya melihat ekonomi. Ada 524 miliar batang setiap tahunnya. Bagian terbesar adalah rokok sigaret kretek mild. Padahal di samping pertimbangan ekonomi ada pertimbangan kesehatan,” cetusnya.

Mantan Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup Indonesia pertama itu juga mempertanyakan peran Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dalam hal penetapan harga rokok.

Atas dasar itu, dia meminta agar harga rokok dapat dinaikan lebih tinggi demi menekan konsumsi rokok. Sebab, kebijakan tersebut akan sangat menentukan kebijakan Indonesia dalam jangka panjang.

“Kalau tidak segera kita hantam, Indonesia bisa segera hancur,” pungkasnya.

Editor: Fatimah

KOMENTAR ANDA
Berita Nasional Terkini Lainnya
Siswa SMA di Bekasi Terlibat Prostitusi Online
Nasional - Kamis, 19 Januari 2017 - 23:17 WIB

Siswa SMA di Bekasi Terlibat Prostitusi Online

Empat orang pelaku berhasil diamankan Polres Metropolitan Bekasi Kota terkait dugaan kasus prostitusi online yang melibatkan anak di usia dini ...
Ini Modus Operandi Skandal Emirsyah Satar dengan Rolls Royce
Nasional - Kamis, 19 Januari 2017 - 21:17 WIB

Ini Modus Operandi Skandal Emirsyah Satar dengan Rolls Royce

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berhasil membongkar praktik suap antara petinggi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia dengan perusahaan terkemuka Rolls ...
KPK : Skandal Emirsyah Satar Tergolong Korupsi Lintas Negara
Nasional - Kamis, 19 Januari 2017 - 20:47 WIB

KPK : Skandal Emirsyah Satar Tergolong Korupsi Lintas Negara

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menetapkan mantan Direktur Utama (Dirut) PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar menjadi tersangka kasus dugaan suap ...
Pasar Senen Terbakar, Ahok Salahkan Pedagang
Peristiwa - Kamis, 19 Januari 2017 - 19:29 WIB

Pasar Senen Terbakar, Ahok Salahkan Pedagang

Ribuan kios di Pasar Senen, Jakarta Pusat yang ludes terbakar, Kamis (19/1) pagi tadi, disayangkan Gubernur DKI Jakarta non aktif ...
KPK Tetapkan Mantan Dirut Garuda jadi Tersangka
Nasional - Kamis, 19 Januari 2017 - 18:14 WIB

KPK Tetapkan Mantan Dirut Garuda jadi Tersangka

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan mantan Direktur Utama (Dirut) PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar menjadi tersangka. Ia diduga menerima ...
Ditetapkan Menjadi Tersangka oleh KPK, Garuda : Kami Akan Kooperatif
Hukum - Kamis, 19 Januari 2017 - 16:06 WIB

Ditetapkan Menjadi Tersangka oleh KPK, Garuda : Kami Akan Kooperatif

Vice President Corporate Communication Garuda Indonesia Benny S Butarbutar, mengatakan pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada KPK dalam penuntasan kasus dugaan ...