Selasa, 12 Desember 2017 | 11.16 WIB
KiniNEWS>Nasional>Ekonomi>Semakin Banyak Industri Rokok, Semakin Hancur Indonesia

Semakin Banyak Industri Rokok, Semakin Hancur Indonesia

Reporter : Fadilah | Selasa, 20 Desember 2016 - 15:44 WIB

IMG-19374

Ilustrasi

Jakarta, kini.co.id – Indonesia akan mendapatkan bonus demografi, yaitu jumlah usia angkatan kerja (15-64 tahun) mencapai sekitar 70%, sedangkan 30% penduduk yang tidak produktif (14 tahun ke bawah dan usia diatas 65 tahun) pada tahun 2020-2045.

Bonus demografi adalah satu fenomena dimana struktur penduduk sangat menguntungkan dari sisi pembangunan karena jumlah penduduk usia produktif sangat besar sedangkan proporsi usia muda sudah semakin kecil dan proporsi usia lanjut belum banyak.

“Kita masuk ke tahap sejarah bangsa yang paling penting, banyak usia produktivitas,” ucap Ekonom Senior dari Universitas Indonesia (UI), Emil Salim dalam workshop bertajuk ‘Harga Rokok Dilema Pembangunan dan Kualitas Hidup’, di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Selasa, (20/12/2016).

Menurut Emil, bonus demografi ini dapat menjadi anugerah bagi bangsa Indonesia untuk menjadi negara maju di tahun 2045 nanti. Dengan syarat generasi muda dari segi pendidikan dan kesehatannya harus berkualitas.

Namun lanjutnya, hal tersebut hanya bisa menjadi sebuah angan karena hisapan rokok. Pasalnya konsumsi rokok di Indonesia mayoritas perokoknya berasal dari masyarakat miskin dan menyasar pemuda di Indonesia.

“Celakanya industri rokok menembak sasaran remaja. Nikotin adalah hal yang paling bahaya bagi pengembangan otak. Jadi yang dijual oleh industri rokok adalah kecanduan. Semakin banyak industri rokok, semakin hancur Indonesia,” ujarnya.

Kata dia, tingginya konsumsi rokok di Indonesia lantaran hingga kini harga rokok per bungkusnya masih sangat murah dibandingkan negara-negara lainnya di Asia Tenggara. Hal ini disebabkan karena pemerintah belum berani menaikan harga rokok.

Emil juga mengkritiki sikap pemerintah yang dianggap telah keliru dalam hal produksi rokok. Dia menilai pemerintah cenderung hanya memerhatikan penerimaan negara dan abai terhadap kesehatan masyarakat.

“Cara berpikir yang mungkin keliru adalah cara berpikir yang hanya melihat ekonomi. Ada 524 miliar batang setiap tahunnya. Bagian terbesar adalah rokok sigaret kretek mild. Padahal di samping pertimbangan ekonomi ada pertimbangan kesehatan,” cetusnya.

Mantan Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup Indonesia pertama itu juga mempertanyakan peran Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dalam hal penetapan harga rokok.

Atas dasar itu, dia meminta agar harga rokok dapat dinaikan lebih tinggi demi menekan konsumsi rokok. Sebab, kebijakan tersebut akan sangat menentukan kebijakan Indonesia dalam jangka panjang.

“Kalau tidak segera kita hantam, Indonesia bisa segera hancur,” pungkasnya.

Editor: Fatimah

KOMENTAR ANDA
Berita Nasional Terkini Lainnya
KPK Kembali Periksa Setnov untuk Lengkapi Berkas Anang
Hukum - Selasa, 12 Desember 2017 - 11:01 WIB

KPK Kembali Periksa Setnov untuk Lengkapi Berkas Anang

Tersangka kasus korupsi e-KTP (Kartu Tanda Penduduk elektronik) TA 2011-2012 Setya Novanto tiba di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kuningan, ...
Begini Cara Ajukan Pinjaman UMi di Pegadaian
Ekonomi - Selasa, 12 Desember 2017 - 10:29 WIB

Begini Cara Ajukan Pinjaman UMi di Pegadaian

Pemerintah Indonesia terus berupaya mendorong kemajuan UMKM di daerah. Di antaranya dengan menyalurkan kredit untuk pelaku usaha kecil.Sebagai pilihan, pemerintah ...
Citilink raih LCC terbaik ke tujuh kali
Ekonomi - Selasa, 12 Desember 2017 - 10:15 WIB

Citilink raih LCC terbaik ke tujuh kali

Untuk yang ke-7 kalinya ajang Indonesia Travel and Tourism Award (ITTA) 2017/2018 yang digagas oleh Indonesia Travel and Tourism ...
70 IKM komponen otomotif jalin sinergi dengan pemasok APM
Ekonomi - Selasa, 12 Desember 2017 - 09:40 WIB

70 IKM komponen otomotif jalin sinergi dengan pemasok APM

Kementerian Perindustrian memfasilitasi sebanyak 70 industri kecil dan menengah (IKM) komponen otomotif yang berasal dari beberapa sentra Pulau Jawa untuk bekerja sama dengan 30 pemasok ...
Kompak F-PKS Gunakan Syal Palestina-Indonesia di DPR
Politik - Selasa, 12 Desember 2017 - 07:34 WIB

Kompak F-PKS Gunakan Syal Palestina-Indonesia di DPR

Sikap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel terus mendapat kecaman. Sebagai bentuk dukungan ...
Batal Menjadi Ketua DPR RI, Aziz Legowo
Politik - Selasa, 12 Desember 2017 - 07:30 WIB

Batal Menjadi Ketua DPR RI, Aziz Legowo

Politikus Partai Golkar Aziz Syamsudin mengaku tak masalah jika dirinya batal menjadi ketua DPR.Rapat Badan Musyawarah (Bamus) hari ini menyerahkan ...