Sabtu, 20 Januari 2018 | 09.34 WIB
KiniNEWS>Nasional>Nasional>Saatnya Petani Menjadi Pemain Utama di Sektor Perkebunan

Saatnya Petani Menjadi Pemain Utama di Sektor Perkebunan

Reporter : Rakisa | Rabu, 26 April 2017 - 20:07 WIB

IMG-22223

Konfrensi perkebunan. (kininews/rakisa)

JAKARTA, kini.co.id – Konferensi perkebunan rakyat yang diprakarsai oleh SPKS, SPI, API, Sawit Watch, FIELD, Bina Desa dan IHCS, Rabu (26/4) yang berlangsung di Gedung YTI, Jakarta dibuka oleh Deputy bidang Perkebunan Kementerian Koordinator Ekonomi Indonesia.

Konferensi perkebunan rakyat yang merupakan konferensi perkebunan rakyat pertama dibuat pada tingkat nasional bertujuan untuk memperkuat perkebunan rakyat menuju perkebunan yang lestari dan berkeadilan social.

Ketua panitia Konferensi, Mansuetus Alsy Hanu menyampaikan konferensi ini bukan untuk menyaingi konferensi-konferensi serupa yang biasa dibuat oleh pemerintah atau kelompok pengusaha.

“Konferensi ini berangkat dari realitas yang terjadi saat ini pada sector ini. Beberapa hal yang menjadi acuan adalah produksi perkebunan saat ini menurun drastis. Di sektor sawit, seharusnya bisa mencapai 36 juta ton perhektare tetapi sampai saat ini baru 30 juta ton/hektar, kita kalah dari Malaysia,” ujarnya, Rabu (26/4).

Selanjutnya, kata Mansuetus di wilayah pedesaan, masyarakat semakin berkurang yang gemar untuk menjadi petani atau berkebun, dan ini sangat meresahkan bagi kita semua.

Persoalan lain adalah akses modal. Petani masih sulit mendapatkan peminjaman dari bank, bank-bank yang ada saat ini masih konfensional, kalau mau mendapatkan pinjaman harus ada jaminan. Dan jaminan itu tentunya harus dengan surat-surat yang lengkap. Ketiga soal akses atas tanah.

“Petani saat ini sangat susah untuk mendapatkan tanah yang layak untuk berkebun karena tanah-tanah di pedesaan sudah banyak dikuasai oleh pengusaha-pengusaha besar. Keempat, perkebunan yang lestari dan berkeadilan social, kita masih sulit mendapat perkebunan yang lestari dan berkeadilan sosial karena memang banyak persoalan yang terjadi dan ini tidak diselesaikan oleh pemerintah atau pengusaha,” ucapnya.

Masih ditempat yang sama, Ketua Stering Committee Konferensi, Henry Saragih menyebutkan bahwa hari ini merupakan hari yang bersejarah. Ini merupakan konferensi perkebunan rakyat pertama.

“Konferensi ini sangat penting, bukan saja karena hari ini isu-isu perkebunan menjadi pemberitaan internasional, tetapi ini juga menyangkut hal yang bersejarah bagi negeri ini,” tegas Henry.

Lebih lanjut, Henry mengatakan bahwa, kehadiran penjajah di negeri ini ditandai dengan perkebunan. Seperti diketahui, perkebunan yang membuat perbudakan di negeri ini, yang membuat orang sengsara. Oleh karena itu, konferensi ini harus bisa mengurai persoalan itu.

“Persoalan ekonomi masih menjadi persoalan serius di negeri ini, kesenjangan ekonomi masih tinggi. Kesenjangan dalam pemilikan tanah, ada yang menguasai jutaan hektar, sedangkan masyarakat hanya 0,3-0,5 hektar,”

“Indonesia benar menjadi negara eksportir untuk hasil perkebunan, ini bukan hal luar biasa karena sejak jaman kolonial itu sudah terjadi. Persoalannya adalah dengan menjadi negara eksportir kehidupan rakyat kita bahagia atau tidak,” sambungnya.

Henry berharap konferensi perkebunan juga menempatkan petani sebagai pelaku utama dalam sektor ini. Sehingga petani tidak lagi menjadi buruh ditanahnya sendiri.

Sementara itu Indah Fatinaware dari Sawit Wacth menegaskan tata kelola perkebunan sudah seharusnya dikembalikan kepada rakyat bukan kepada perusahaan.

“Maka dari itu melalui konferensi ini kami minta pemerintah agar mengeluarkan moratorium izin kelapa sawit dan evaluasi semua izin, serta agar menghentikan RUU Perkelapasawitan karena tidak berpihak kepada petani sawit,” pungkasnya.

Editor: Armand

KOMENTAR ANDA
Berita Nasional Terkini Lainnya
Redam tensi Pilkada, Polri bentuk Satgas Nusantara
Peristiwa - Jumat, 19 Januari 2018 - 22:02 WIB

Redam tensi Pilkada, Polri bentuk Satgas Nusantara

Polri menurunkan Satuan Tugas (Satgas) Nusantara untuk meredam panasnya isu-isu politik dalam Pilkada serentak 2018. Dengan menggandeng tokoh agama , ...
Proses tender rampung, impor beras mulai jalan pekan depan
Peristiwa - Jumat, 19 Januari 2018 - 20:02 WIB

Proses tender rampung, impor beras mulai jalan pekan depan

Perusahaan Umum (Perum) Bulog akan mulai melakukan impor beras pada pekan depan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan Perum ...
Rita Widyasari sebut puluhan koleksi tasnya ada yang palsu
Hukum - Jumat, 19 Januari 2018 - 19:54 WIB

Rita Widyasari sebut puluhan koleksi tasnya ada yang palsu

Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) nonaktif, Rita Widyasari menyatakan diantara puluhan koleksi tas mewahnya itu terdapat sejumlah tas yang palsu. Hal ...
Verifikasi parpol lama mulai 28 Januari
Politik - Jumat, 19 Januari 2018 - 19:42 WIB

Verifikasi parpol lama mulai 28 Januari

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman menyatakan faktor waktu dan ketersediaan anggaran menjadi kendala dalam melakukan verifikasi faktual terhadap ...
Rita Widyasari mengaku asetnya dari hasil tambang
Hukum - Jumat, 19 Januari 2018 - 19:09 WIB

Rita Widyasari mengaku asetnya dari hasil tambang

Bupati Kutai Kartanegara nonaktif Rita Widyasari mengaku aset dan harta kekayaannya berasal dari usaha tambang miliknya ."Tadi penyidik bilang bahwa ...
Ketut sebut prahara internal partai Hanura berakhir
Politik - Jumat, 19 Januari 2018 - 17:37 WIB

Ketut sebut prahara internal partai Hanura berakhir

Konflik internal di tubuh Partai Hanura antara kubu Manhattan yang dipimpin Oesman Sapta Odang alias OSO dengan kubu Ambhara ...