Sabtu, 27 Mei 2017 | 13.08 WIB
KiniNEWS>Nasional>Pendidikan>Chairil Anwar dan Politik

Chairil Anwar dan Politik

Jumat, 28 April 2017 - 01:22 WIB

IMG-22265

Jakarta, kini.co.id – Chairil Anwar (lahir di Medan, 26 Juli 1922 dan meninggal di Jakarta, 28 April 1949), hidup di tengah revolusi bangsanya. Tumbuh dalam situasi krisis dan kritis sejarah bangsa Indonesia.

HB Jasin membaptisnya sebagai Penyair Pelopor Angkatan ’45, meski periodesasi ini dikemudian hari dipersoalankan. Tapi apa yang tak dipersoalkan di negeri ini, ketika urusan bunga pun bisa membuat orang sibuk saling menilai?

Dalam suasana revolusioner itulah, di antara perang dan gagasan-gagasan besar dan bebas, Chairil memberontak atas segala yang mapan. Kehadiran dan karya-karya adalah simbol pemberontakan. Kata-katanya bak kuda liar, bertenaga.

Majalah Pembangoenan, Desember 1945, memuat esai Chairil Anwar, “Sekarang: Hoppla! Lompatan yang sejauh penuh kedara-remajaan bagi negara remaja ini. Sesudah masa mendurhaka pada Kata, kita lupa bahwa Kata adalah yang menjalar, mengurat, hidup dari masa ke masa, terisi padu dengan penghargaan, mimpi, pengharapan, cinta, dan dendam manusia. Kata ialah kebenaran!!!”

Ketika serbuan Tentara Sekutu Inggris dan NICA merangsek ke Jakarta, Nopember 1945, PM Sutan Syahrir memerintahkan TKR dan badan-badan perjuangan keluar dari Jakarta, untuk menghindari bentrok. Maka tentara Indonesia pun hijrah ke kawasan pinggiran seperti Cakung, Kranji, Pondok Gede, Bekasi, Tambun, Cikarang, Karawang dan Cikampek.

Kepindahan ini diikuti oleh pemerintahan dan masyarakat sipil, termasuk pedagang, wartawan, sastrawan, dan di antaranya Chairil Anwar dan keluarga. Dalam episode ini Chairil menjadi saksi pertempuran tentara Indonesia dengan Sekutu. Dari sinilah Chairil menulis puisi ‘Krawang-Bekasi’ yang sohor, setelah mengendapkan empat tahun kemudian.

Meski keponakan Perdana Menteri, Chairil bukan orang yang memanfaatkan hal itu. Walau justeru Syahrir sendiri sering memperkenalkan keponakannya itu kepada siapa saja.

Dan Chairil memang banyak terlibat dengan kolega Syahrir ini, terutama para wartawan dan politikus.

Ia pernah menjadi kurir penting bagi Sjahrir, pada awal Agustus 1945, ketika Jepang kalah dari Sekutu.

Tapi Chairil adalah manusia bebas yang biasa hidup seenaknya. Ia tak betah kerja kantoran, meski Bung Hatta pernah mempekerjakannya sebagai penerjemah di kantornya, karena bahasa Inggris dan Belanda Chairil yang bagus.

Chairil tampak dengan sengaja menghindar dari pertemuan-pertemuan politik dari sang paman dengan para pemuda. Pada November 1945, sebagaimana ditulis Syumanjaya dalam skenario ‘Aku’, Chairil tiba-tiba mengagetkan semua peserta rapat di rumah pamannya. Rapat politik yang penting itu berhenti sesaat, melihat Chairil nyelonong masuk. Semuanya menunggu, barangkali ada informasi penting.

Tapi apa kata Chairil? “Selamat pagi, Bapak Perdana Menteri. Ada yang sedang penting rupanya. Saya interupsi sebentar, cuma buat ini kok,…”

Chairil kemudian mencomot beberapa batang cerutu milik Syahrir. Kemudian bergegas meninggalkan ruangan itu. Begitu saja.

Oleh : Sunardian Wirodono

Editor: Rakisa

KOMENTAR ANDA
Berita Nasional Terkini Lainnya
Tak Pulang Dua Hari, Eddy Tewas di Atas Rumah
Peristiwa - Sabtu, 27 Mei 2017 - 12:07 WIB

Tak Pulang Dua Hari, Eddy Tewas di Atas Rumah

Sungguh tragis nasib Sulaidawati, setelah mencari suaminya Eddy Suprianto (60) selama dua hari tidak ketemu, sejak Rabu (24/5/2017). Namun, suaminya ...
Diduga Tersengat Aliran Listrik ACCU Mobol, Tawi Tewas
Peristiwa - Sabtu, 27 Mei 2017 - 12:04 WIB

Diduga Tersengat Aliran Listrik ACCU Mobol, Tawi Tewas

Seorang pekerja di CV Parma, Kampung Cikiwul RT 003 RW 001, Kelurahan Cikiwul, Kecamatan Bantargebang, tewas setelah jatuh tergeletak dan ...
KPK OTT Tujuh Orang dari BPK dan Kementrian
Hukum - Jumat, 26 Mei 2017 - 23:23 WIB

KPK OTT Tujuh Orang dari BPK dan Kementrian

Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan tangkap tangan terhadap tujuh orang dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Pejabat Kementerian Desa, ...
Ledakan Kampung Melayu Gunakan Serbuk Mother of Satan
Hukum - Jumat, 26 Mei 2017 - 23:07 WIB

Ledakan Kampung Melayu Gunakan Serbuk Mother of Satan

Kapolri Jendral Tito Karnavian mengatakan jenis bahan peledak yang digunakan Ahmad Sukri dan Ichwan Nurul Salam dalam melakukan aksinya, Rabu ...
Ahmad Sukri dan Ichwan Nurul Salam Pelaku Peledakan di Kampung Melayu
Peristiwa - Jumat, 26 Mei 2017 - 22:57 WIB

Ahmad Sukri dan Ichwan Nurul Salam Pelaku Peledakan di Kampung Melayu

Identitas pelaku peledakan di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, pada Rabu (24/5) malam lalu telah terindentifikasi berdasarkan hasil test DNA. ...
Panglima TNI Minta Media Awasi Kasus Korupsi Heli
Hukum - Jumat, 26 Mei 2017 - 22:14 WIB

Panglima TNI Minta Media Awasi Kasus Korupsi Heli

Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo berjanji akan terbuka soal penyidikan dugaan tindak pidana korupsi pengadaan helikopter militer AgustaWestland (AW)-101."Jangan khawatir ...