Sabtu, 20 Januari 2018 | 09.32 WIB
KiniNEWS>Nasional>Peristiwa>Jegal Aspirasi Umat Islam, Isu Kebhinekaan Masih Dimainkan

Jegal Aspirasi Umat Islam, Isu Kebhinekaan Masih Dimainkan

Selasa, 2 Mei 2017 - 05:39 WIB

IMG-22346

Aksi 313 yang digelar berbagai ormas Islam. (KiniNews/Rakisa)

Jakarta, kini.co.id – Isu kebhinekaan masih terus dimunculkan tatkala umat Islam bergerak menuntut keadilan atau ketika umat Islam menyuarakan aspirasinya.

Sebagaimana kasus dugaan penistaan agama oleh Ahok, isu kebhinekaan masih dimainkan sehingga menjadi penghalang umat Islam dalam menuntut keadilan.

Seolah Ahok adalah simbol kebhinekaan. Karena itu menuntut Ahok dihukum sama artinya mencederai keberagaman atau kebhinekaan di negeri ini.

Contoh lainnya ketika terjadi kerusuhan di Tanjung Balai, Sumatera Utara, pada 29 Juli 2015 silam yang dipicu adanya protes keberatan dari warga etnis Tionghoa dengan suara adzan di masjid. Padahal adzan di masjid adalah satu hal yang disyariatkan sebelum melaksanakan ibadah shalat. 

Adzan tersebut dianggap mengganggu dan tidak menghormati agama lain yang berada di sekitar masjid tersebut.

Mereka juga menyatakan bahwa pelarangan pemakaian kerudung bagi Muslimah di Bali adalah wujud dari keberagaman tersebut. Implementasi dari semangat Bhineka Tunggal Ika. Karena itu umat Islam yang tinggal di Bali harus menghormati ketentuan yang berlaku di sana.

Contoh lain ketika terjadi kasus pembakaran masjid di Tolikara. Umat Islam menuntut pihak Kepolisian agar segera menindak tegas pelakunya.

Namun, oleh pemangku kepentingan, umat Islam malah diminta agar menjaga kerukunan hidup beragama di sana.

Padahal kehidupan umat Islam dan Kristen di Tolikara tidak ada masalah. Masalah baru muncul tatkala terjadi pembakaran kios dan masjid yang diduga oleh warga Kristen di sana.

Harusnya para pembakar itulah yang disebut mengancam kebhinekaan, karena mereka yang mengakibatkan terjadi keributan tersebut.

Sebagian orang kemudian kembali memainkan isu kebhinekaan. Mereka berpendapat bahwa sikap umat Islam yang menuntut penangkapan pelaku pembakaran kios dan masjid tersebut akan menimbulkan konflik yang akan menggangu kehidupan beragama di Tolikara.

Dengan isu kebhinekaan tersebut akhirnya umat Islam seolah “dipaksa” untuk menerima dan memaafkan ketidakadilan yang terjadi pada umat Islam.

Hal yang sama juga terjadi di sejumlah daerah saat umat Islam menolak pendirian gereja karena persoalan aturan yang dilanggar, lagi-lagi umat Islam dianggap sebagai sikap anti kebhinekaan.

Bukankah sudah menjadi kesepakatan agar tidak mendirikan gereja di wilayah tersebut untuk menjaga keharmonisan dalam beragama.

Namun, ketika gereja tersebut didirikan, dan umat Islam kemudian melakukan aksi menolak pendirian gereja tersebut, malah umat Islam yang dituduh menggangu kebhinekaan.

Harusnya umat Kristen yang diingatkan agar menjaga kebhinekaan dengan tidak membangun gereja sesuai dengan kesepakatan sebelumnya, kecuali memang pendirian tersebut sesuai dengan ijin mendirikan bangunan rumah ibadah.

Oleh karena itu, jelas sekali bahwa isu kebhinekaan akan selalu dijadikan oleh pihak-pihak tertentu untuk menjegal Islam dan umat Islam.

Akibatnya, umat Islam, walaupun secara jumlah adalah mayoritas di negeri ini, dibuat tidak berdaya saat ingin menyuarakan aspirasi dan tuntutannya ketika dihadapkan kepada isu kebhinekaan.

Editor: Rakisa

KOMENTAR ANDA
Berita Nasional Terkini Lainnya
Redam tensi Pilkada, Polri bentuk Satgas Nusantara
Peristiwa - Jumat, 19 Januari 2018 - 22:02 WIB

Redam tensi Pilkada, Polri bentuk Satgas Nusantara

Polri menurunkan Satuan Tugas (Satgas) Nusantara untuk meredam panasnya isu-isu politik dalam Pilkada serentak 2018. Dengan menggandeng tokoh agama , ...
Proses tender rampung, impor beras mulai jalan pekan depan
Peristiwa - Jumat, 19 Januari 2018 - 20:02 WIB

Proses tender rampung, impor beras mulai jalan pekan depan

Perusahaan Umum (Perum) Bulog akan mulai melakukan impor beras pada pekan depan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan Perum ...
Rita Widyasari sebut puluhan koleksi tasnya ada yang palsu
Hukum - Jumat, 19 Januari 2018 - 19:54 WIB

Rita Widyasari sebut puluhan koleksi tasnya ada yang palsu

Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) nonaktif, Rita Widyasari menyatakan diantara puluhan koleksi tas mewahnya itu terdapat sejumlah tas yang palsu. Hal ...
Verifikasi parpol lama mulai 28 Januari
Politik - Jumat, 19 Januari 2018 - 19:42 WIB

Verifikasi parpol lama mulai 28 Januari

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman menyatakan faktor waktu dan ketersediaan anggaran menjadi kendala dalam melakukan verifikasi faktual terhadap ...
Rita Widyasari mengaku asetnya dari hasil tambang
Hukum - Jumat, 19 Januari 2018 - 19:09 WIB

Rita Widyasari mengaku asetnya dari hasil tambang

Bupati Kutai Kartanegara nonaktif Rita Widyasari mengaku aset dan harta kekayaannya berasal dari usaha tambang miliknya ."Tadi penyidik bilang bahwa ...
Ketut sebut prahara internal partai Hanura berakhir
Politik - Jumat, 19 Januari 2018 - 17:37 WIB

Ketut sebut prahara internal partai Hanura berakhir

Konflik internal di tubuh Partai Hanura antara kubu Manhattan yang dipimpin Oesman Sapta Odang alias OSO dengan kubu Ambhara ...