Minggu, 23 Juli 2017 | 05.53 WIB
KiniNEWS>Nasional>Politik>Rezim Jokowi di Simpang Jalan Sosmed

Rezim Jokowi di Simpang Jalan Sosmed

Reporter : Yudi Andriansyah | Senin, 17 Juli 2017 - 17:16 WIB

IMG-24145

Ratusan mahasiswa muslim di Medan aksi penolakan Perppu No 2/2017. KiniNews/Nur Fatimah.

JAKARTA, kini.co.id – Rezim Jokowi melalui Kementerian Kominfo melakukan penutupan telegram, alasan utama dikaitkan dengan terorisme dan (rencana) penutupan beberapa media sosial juga akan dilakukan sebagai langkah untuk mereduksi penyebaran konten yang dianggap radikal dan terorisme.

“Apakah sikap ini tepat? Dan sejauhmana efektifitasnya?

Pengamat Teroris dari The Community Of Ideological Islamic Analyst, Ustadz Harits Abu Ulya menyatakan pemerintah tidak perlu berpikir naif, teknologi dan produk derivatnya pada dasarnya adalah bebas nilai, ia akan melahirkan dampak positif atau negatif tergantung usernya. Ibaratnya gelas ia sebagai alat dan air itu isinya.

Namun bukan karena isi gelas itu racun kemudian negara menghancurkan gelasnya, padahal gelas itu sudah menjadi kebutuhan dan bagian tidak terpisahkan dari kehidupan warga negaranya.

“Memang betul bahwa negara punya peran dan kewajiban untuk menutup semua celah yang bisa membahayakan kehidupan warga negaranya dalam beragam aspeknya,” ujarnya, Senin (17/7).

Masih kata Harits peran negara yang harus dioptimalkan, dalam hal ini adalah fungsi filtering dan kontrol bukan memberangus.

Pemblokiran itu, tidak akan banyak memberikan pengaruh signifikan dalam upaya mereduksi atau menghentikan penyebaran konten yang terkait terorisme. Karena teknologi berkembang pesat serta selalu banyak memberikan pilihan dan alternatif lain.

Di dunia modern, negara dengan aparaturnya yang bekerja di dunia cyber punya PR besar bagaimana meminimalisir dampak negatif terutama perkembangan terorisme karena sebab teknologi yang ada.

“Jika pemerintah tetap memaksa untuk memblokir aplikasi sosial media dengan beragam variannya, itu artinya lebih menunjukkan kebuntuan berpikir dan pilihannya cenderung kontraproduktif dan tidak efektif yang ada justru blunder,” tegasnya.[]

Editor: Rakisa

KOMENTAR ANDA
Berita Nasional Terkini Lainnya
PDI-P Kantongi Tiga Nama untuk Pilgub Jabar
Politik - Minggu, 23 Juli 2017 - 02:04 WIB

PDI-P Kantongi Tiga Nama untuk Pilgub Jabar

Meskipun populiritas dan elektabilitas Ridwan Kamil unggul, namun nampaknya Walikota Bandung itu tidak masuk radar PDI-Perjuangan di Jawa Barat dalam ...
Puncak Harlah PKB ke-19, Ini Tujuh Pesan Cak Imin Kepada Kadernya
Politik - Sabtu, 22 Juli 2017 - 22:59 WIB

Puncak Harlah PKB ke-19, Ini Tujuh Pesan Cak Imin Kepada Kadernya

Malam puncak peringatan Hari Lahir Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ke-19 dipusatkan di Lapangan DPR, Senayan, Jakarta, Sabtu (22/7) malam, diisi ...
Garda Bangsa Umumkan Pemenang Final Musabaqoh Kitab Kuning 2017
Pendidikan - Sabtu, 22 Juli 2017 - 22:19 WIB

Garda Bangsa Umumkan Pemenang Final Musabaqoh Kitab Kuning 2017

Garda Bangsa Umumkan Pemenang Final Musabaqoh Kitab Kuning 2017 PKBDKN Garda Bangsa mengumumkan nama-nama pemenang Final Lomba Musabaqoh Kitab Kuning ...
Gudang Beras PT IBU Digrebek, DPR Bakal Panggil Mentan
Peristiwa - Sabtu, 22 Juli 2017 - 17:07 WIB

Gudang Beras PT IBU Digrebek, DPR Bakal Panggil Mentan

Komisi IV DPR RI akan segera memanggil Menteri Pertanian terkait penggrebekan 1.000 ton beras oplosan di gudang milik PT Indo ...
Komnas PA: Jangan Ajarkan Anak Kebencian dan Intoleransi
Pendidikan - Sabtu, 22 Juli 2017 - 16:38 WIB

Komnas PA: Jangan Ajarkan Anak Kebencian dan Intoleransi

Anak-anak merupakan aset bangsa yang sungguh berharga. Anak-anak merupakan pesan untuk masa depan. Sehingga harus dididik, dilindungi dan dijamin haknya ...
Kebakaran Hutan Sebabkan Titik Api di Riau
Peristiwa - Sabtu, 22 Juli 2017 - 15:45 WIB

Kebakaran Hutan Sebabkan Titik Api di Riau

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru memantau ada delapan titik panas karena kebakaran hutan dan lahan di sejumlah ...