Kamis, 22 Februari 2018 | 05.53 WIB
KiniNEWS>Nasional>Peristiwa>Teror Kepada Novel Baswedan; Satu Mata Dihilangkan, Jutaan Mata Menyoroti

Teror Kepada Novel Baswedan; Satu Mata Dihilangkan, Jutaan Mata Menyoroti

Reporter : Fadilah | Rabu, 9 Agustus 2017 - 14:26 WIB

IMG-24941

Aksi teatrikal terkait teror kepada Novel Baswedan. (KiniNews/Fadillah)

Jakarta, kini.co.id – Pemuda pemudi antikorupsi yang tergabung dalam Sekolah Anti Korupsi (Sakti) mengadakan aksi teatrikal usut tuntas kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan di depan Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, (9/8/2017).

Pantauan tim redaksi dilokasi, mereka mengenakan topeng dengan satu mata dihilangkan. Ada yang menggunakan wajah Novel Baswedan, Tito Karnavian dan juga wajah Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Aksi teatrikal tersebut dilakukan untuk mengingatkan kepada Jokowi bahwa aparat Kepolisian masih belum menemukan tersangka penyiraman air keras dan aktor intelektual dari penyiraman tersebut. Padahal hari ini merupakan hari ke-120.

“Serangan yang dialami Novel Baswedan adalah contoh nyata dari serangan koruptor terhadap lembaga, organisasi, penegak hukum yang sedang mengusut kasus korupsi yang semakin menggurita. Ini semakin menunjukkan bahwa negara telah abai dalam menciptakan rasa aman bagi masyarakat,” ucap Orator.

Sakti berpendapat, peristiwa ini tidak bisa dilihat sebagai tindak kriminal biasa. Namun, harus dilihat dari apa yang sedang dilakukan oleh Novel Baswedan.

Saat kejadian berlangsung Novel sedang menyidik kasus korupsi e-KTP yang merugikan negara sebesar Rp 2,3 triliun. Persitiwa ini dinilainya merupakan perlawanan balik koruptor terhadap secara institusi maupun Novel sebagai individu.

“Sayangnya, hal ini tak pernah bisa dilakukan oleh penegak hukum. Oleh karena itu, hal yang wajar jika publik menganggap bahwa negara dan aparat penegak hukum tidak memiliki komitmen serius dalam pemberantasan korupsi,” katanya.

Meski demikian lanjut Orator, Novel tidak sendirian, saat ini ada jutaaan mata menyoroti kasus ini. Masyarakat di berbagai daerah sedang menunggu keseriusan pemerintah dan penegak hukum untuk menyelesaikan kasus ini.

“Tak hanya itu, masyarakat juga menunggu sikap tegas dari Presiden Joko Widodo untuk mendorong dan kepada kepolisian untuk mengusut tuntas perkara ini memberikan deadline kepada kepolisian untuk mengusut tuntas perkara ini,” tegasnya.

Mata masyarakat Indonesia terus memantau kasus ini. Ketidakseriusan, pembiaran, bahkan kesengajaan yang dilakukan oleh pemerintah dan penegak hukum akan melahirkan kekecewaan dan kemarahan ya nantinya bisa menjadi pertawanan yang semakin kuat serta terorganisir.

“Kita tidak pernah menutup mata dan diam untuk terus memantau serta berteriak atas praktik korupsi yang terjadi di bumi pertiwi, Indonesia,” kata dia.

Adapun Sekolah Anti Korupsi(SAKTI), ICW 2017 menuntut agar Presiden Joko Widodo segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF). Keberadaan TGPF ini diyakini menjadi penting agar penegak penyelidikan yang dilakukan langsung di bawah supervisi Presiden dan bisa diisi oleh gabungan penegak hukum serta masyarakat sipil.

Editor: Fatimah

KOMENTAR ANDA
Berita Nasional Terkini Lainnya
Dituding Bersekongkol dengan Nazaruddin, Ini Kata  KPK
Hukum - Rabu, 21 Februari 2018 - 20:42 WIB

Dituding Bersekongkol dengan Nazaruddin, Ini Kata KPK

Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (Jubir KPK), Febri Diansyah membantah tudingan Fahri Hamzah yang menyebut bahwa lembaga antirasuah ini bersekongkol ...
KPK Konfirmasi Dokumen Ratas Kabinet kepada Dorojatun Kuntjoro
Hukum - Rabu, 21 Februari 2018 - 20:33 WIB

KPK Konfirmasi Dokumen Ratas Kabinet kepada Dorojatun Kuntjoro

Mantan Menteri Perekonomian, Dorojatun Kuntjoro Jakti kembali diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), pada Rabu, (21/2).Ia diperiksa sebagai saksi dalam ...
Atasi ambruknya lnfrastruktur, langkah  Kemen PUPR diapresiasi
Politik - Rabu, 21 Februari 2018 - 18:00 WIB

Atasi ambruknya lnfrastruktur, langkah Kemen PUPR diapresiasi

Berbagai musibah dalam proyek infrastruktur yang belakangan terjadi mendapat sorotan dari DPR. Anggota Komisi VI Nyat Kadir menyatakan menyesalkan terjadinya ...
Diduga Terima Suap Rp11,1 Miliar, Yudi Widiana Dituntut 10 Tahun Penjara
Hukum - Rabu, 21 Februari 2018 - 17:46 WIB

Diduga Terima Suap Rp11,1 Miliar, Yudi Widiana Dituntut 10 Tahun Penjara

Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menuntut Politikus PKS, Yudi Widiana Adia untuk dijatuhi hukuman 10 tahun penjara."Menuntut supaya majelis hakim ...
Mantan Dokter Novanto Segera Diadili
Hukum - Rabu, 21 Februari 2018 - 17:42 WIB

Mantan Dokter Novanto Segera Diadili

Bimanesh Sutardjo bakal segera diadili atas kasus dugaan dengan sengaja mencegah, merintangi, atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan ...
KPK: Evaluasi Proyek Tol Melayang Dinilai Telat
Peristiwa - Rabu, 21 Februari 2018 - 16:58 WIB

KPK: Evaluasi Proyek Tol Melayang Dinilai Telat

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) turut menyoroti insiden kecelakaan kerja pada sejumlah proyek infrastruktur di tanah air.Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang ...