Jumat, 19 Januari 2018 | 10.10 WIB
KiniNEWS>Nasional>Peristiwa>Sungguh Naif, Geser Isu Genosida Myanmar ke Terorisme Muslim Rohingya

Sungguh Naif, Geser Isu Genosida Myanmar ke Terorisme Muslim Rohingya

Reporter : Zainal Bakri | Minggu, 10 September 2017 - 17:52 WIB

IMG-26054

Komunitas Niqab Squad menunjukan poster saat melakukan Challenge kepada pengunjung CFD untuk mengenakan Niqab di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Ahad (10/9). ANTARAFOTO/Puspa Perwitasari.

JAKARTA, kini.co.id – Pengamat Terorimse The Community Of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Ustadz Harits Abu Ulya menduga adanya upaya untuk mengaburkan kejahatan kemanusiaan luar biasa yang dilakukan pemerintah Myanmar terhadap muslim Rohingya melalui upaya penyesatan opini dengan mencari pembenaran atas langkah genosida tersebut.

Dan alibinya adalah dengan keberadaan kelompok mujahidin dan tidak ketinggalan ISIS juga di masukkan didalamnya.

Menurutnya Genosida itu satu hal, fakta aktual dan sebagian kecil muslim Rohingya melawan dan kemudian dihendus terkait dengan kelompok jihadis itu hal lain.

Sangat tidak adil, kelompok yang jadi target genocida justru mau di tuduh sebagai biang kerok hanya karena sebab sebagian dari mereka melawan atas kedzaliman tersebut.

“Saya pikir nalar sudah terjungkir dan nurani sudah rontok jika memahami tragedi pembantaian muslim Rohingya dengan sudut pandang dan sikap seperti itu. Jadi menurut saya pemerintah perlu fokus membantu muslim Rohingya dengan maksimal agar bisa keluar dari kejahatan kemanusiaan yang diluar batas kemanusiaan ini,” kata Harits, Ahad (10/9).

Penduduk Indonesia yang mayoritas muslim, kata dia pasti akan mendukung pemerintah Indonesia, jangan sampai ada sikap dan kebijakan yang blunder dengan menggeser ke arah isu terorisme dan radikalisme karena itu sudah basi dan terlalu naif.

“Jika isu terorisme dipakai menutupi kejahatan besar pemerintah Myanmar, publik makin tau bahwa ini sangat politis dan ada kepentingan besar imperialis dibalik itu semua.

Dalam pandangannya, Myanmar terlihat sebagai Proxy (boneka) dari imperialis baru Negara Republik Rakyat Tiongkok.

Faktor utang Myanmar dan ketidakmampuan untuk membayar hutang membuatnya bergantung ke China. Hubungan proxial dengan China inisiasinya Petinggi Militer Myanmar sendiri.

Konsekuensi sebagai proxy adalah sama dgn Negara Terjajah secara teritorial (imperialisme tempo dulu). Selain itu kepentingan China membackup Myanmar dalam kasus Genocida tidak lain adalah ingin mengeruk Kekayaan alam di tanah Rakhine state, Myanmar.

Myanmar harus melayani China untuk mengeruk kekayaan alam di Rakhine dengan pendekatan Genosida terhadap Rohingya Muslims.

“Apakah Indonesia, pemerintahnya juga akan menjadikan negara Proxy dari kepentingan imperialis baru tersebut? Itu bisa terbaca kemampuan dan kemana arah angin kebijakan yang obyektif terhadap kasus Genocida muslim Rohingya di buat,” tandasnya. []

Editor: Rakisa

KOMENTAR ANDA
Berita Nasional Terkini Lainnya
Soal Ustadz Zulkifli, Fahri Hamzah: Orang ngomong akhir zaman aja ga boleh
Politik - Jumat, 19 Januari 2018 - 07:42 WIB

Soal Ustadz Zulkifli, Fahri Hamzah: Orang ngomong akhir zaman aja ga boleh

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah angkat bicara soal status tersangka Ustadz Zulkifli Muhammad Ali yang diduga melakukan ujaran kebencian. Menurut ...
Dana desa untuk  93 daerah siap dicairkan
Ekonomi - Jumat, 19 Januari 2018 - 07:33 WIB

Dana desa untuk 93 daerah siap dicairkan

Kementerian Keuangan menyatakan ada sekitar 25 persen daerah kota/kabupaten yang telah memenuhi syarat untuk pencairan dana desa tahap satu tahun ...
DPR dukung impor beras dengan catatan
Peristiwa - Kamis, 18 Januari 2018 - 21:49 WIB

DPR dukung impor beras dengan catatan

DPR mendukung kebijakan impor 500 ribu ton beras yang dilakukan oleh pemerintah. Hal itu disampaikan anggota Komisi VI DPR Nyat ...
Menteri Luhut ingin santri melek teknologi
Pendidikan - Kamis, 18 Januari 2018 - 21:35 WIB

Menteri Luhut ingin santri melek teknologi

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan meminta santri agar tidak buta teknologi dan mendorong mereka untuk belajar serta bekerja ...
Ustadz Zulkifli tak ditahan, dipersilahkan kembali berdakwah
Hukum - Kamis, 18 Januari 2018 - 21:02 WIB

Ustadz Zulkifli tak ditahan, dipersilahkan kembali berdakwah

Ustadz Zulkifli Muhammad Ali menjalani pemeriksaan sebagai tersangka kasus ujaran kebencian dan SARA.Diperiksa selama empat jam di Gedung Bareskrim ...
Bamsoet: Baik buruknya citra DPR tergantung media massa
Politik - Kamis, 18 Januari 2018 - 17:18 WIB

Bamsoet: Baik buruknya citra DPR tergantung media massa

Ketua DPR Bambang Soesatyo menyatakan, baik buruknya DPR sangat tergantung media massa. Karena itu, ia bertekad untuk membangun citra wakil ...