Jumat, 15 Desember 2017 | 00.02 WIB
KiniNEWS>Nasional>Nasional>Ayahnya Jadi Korban, Guru Besar UI Sebut PKI Tak Pernah Minta Maaf

Ayahnya Jadi Korban, Guru Besar UI Sebut PKI Tak Pernah Minta Maaf

Selasa, 19 September 2017 - 18:12 WIB

IMG-26454

Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Sri Edi Swasono. (Ist)

Jakarta, kini.co.id – Permintaan LSM pembela HAM agar Presiden meminta maaf kepada keluarga Partai Komunis Indonesia (PKI) dinilai berlebihan.

Sebab, usai menculik dan membantai warga pada pemberontakan 1948 PKI hingga saat ini tidak pernah meminta maaf.

Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Sri Edi Swasono juga merupakan keluarga korban pemberontakan PKI.

Ia mengatakan dalam peristiwa pemberontakan PKI itu, ayahnya menjadi korban.

“Beliau digelandang ke penjara oleh PKI ketika disuruh pilih Soekarno-Hatta atau Amir-Muso. Ayah saya pilih Soekarno-Hatta, ya tentu ditembak mati,” ujarnya dikutip dari Republika, Selasa (19/9/2017).

Setelah ditembak, lanjutnya, ayahnya Moenadji Soerjohadikoesoemo yang saat itu merupakan seorang hakim di Ngawi dikubur bersama 6 pejabat lainnya.

Setelah itu, mayat ayahnya baru ditemukan 2 minggu kemudian.

Peristiwa itu jelas menorehkan luka mendalam baginya dan keluarganya. Tapi hingga saat ini tidak ada terdengar permintaan maaf dari PKI.

“PKI tidak pernah meminta maaf telah membunuh manusia-manusia tak bersalah,” katanya.

Ia mengatakan pada saat itu PKI memunuh banyak orang dengan cara yang kejam. Banjir darah tidak hanya di Ngawi, tetapi juga di seluruh Kabupaten di Karesidenan Madiun.

Untuk itulah, PKI seharusnya tidak diberi celah untuk berada di Indonesia.

“PKI yang berontak membunuhi rakyat. Kalau saja G-30S/PKI 1965 PKI yang menang, kita yang mereka bunuh lagi seperti para jenderal yang dibunuh di Lubang Buaya,” ucapnya.

Editor: Fatimah

KOMENTAR ANDA
Berita Nasional Terkini Lainnya
Fahri Hamzah kembali menang lawan PKS di Pengadilan Tinggi
Hukum - Kamis, 14 Desember 2017 - 21:40 WIB

Fahri Hamzah kembali menang lawan PKS di Pengadilan Tinggi

Politis PKS, Fahri Hamza kembali memenangkan pertarungan hukum melawan DPP PKS di Pengadilan Tinggi Jakarta.Dalam putusannya Pengadilan Tinggi menolak banding yang ...
Survei INES: Effendi Simbolon ungguli Tengku Erry
Politik - Kamis, 14 Desember 2017 - 20:36 WIB

Survei INES: Effendi Simbolon ungguli Tengku Erry

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Indonesia Network Election Survei (INES), nama politisi PDI-P Effendi Simbolon mengungguli petahana Tengku Erry Nuradi ...
Delapan pemuda Jatiwaringin divonis bebas
Hukum - Kamis, 14 Desember 2017 - 19:30 WIB

Delapan pemuda Jatiwaringin divonis bebas

Pengadilan Negeri Jakarta Timur memvonis bebas delapan pemuda Jatiwaringin, Bekasi, yang didakwa melakukan pengeroyokan dan penganiayaan terhadap seorang remaja, yang ...
Memanas, PPP Djan Faridz Ultimatum Kubu Romy Kosongkan Kantor DPP dalam 48 Jam
Politik - Kamis, 14 Desember 2017 - 17:42 WIB

Memanas, PPP Djan Faridz Ultimatum Kubu Romy Kosongkan Kantor DPP dalam 48 Jam

Ketua Umum Pemuda Persatuan yang merupakan sayap DPP PPP kubu Djan Farizd, Mohamd Ebit Boi mengultimatum agar PPP kubu Romahurmuzy ...
MK putuskan teman satu kantor boleh terikat perkawinan
Hukum - Kamis, 14 Desember 2017 - 17:18 WIB

MK putuskan teman satu kantor boleh terikat perkawinan

Mahkamah Konstitusi, memutuskan bahwa pekerja dalam satu perusahaan boleh terikat dalam suatu perkawinan.Hal itu termuat dalam amar putusannya yang ...
Bacakan Pledoi, Andi Narogong Minta Hakim Buka Rekeningnya yang Diblokir KPK
Hukum - Kamis, 14 Desember 2017 - 16:32 WIB

Bacakan Pledoi, Andi Narogong Minta Hakim Buka Rekeningnya yang Diblokir KPK

Sidang perkara korupsi e-KTP dengan terdakwa Andi Agustinus alias Adni Narogong digelar kembali. Agendanya adalah pembacaan nota pembelaan atas tuntutan ...