Selasa, 12 Desember 2017 | 19.24 WIB
KiniNEWS>Nasional>Ekonomi>Investor asing tarik dari bursa akibat kondisi bisnis lesu

Investor asing tarik dari bursa akibat kondisi bisnis lesu

Reporter : Sindi Violinda | Senin, 2 Oktober 2017 - 23:21 WIB

IMG-26906

Bursa Efek Indonesia

Jakarta, kini.co.id – Sejumlah investasi asing di bursa menarik diri dari Indonesia beberapa waktu lalu, para investor asing nampaknya enggan melanjutkan kegiatan investasinya.

Berdasarkan data Bloomberg Keenganan investor asing untuk melanjutkan kegiatan investasinya di Indonesia karena mereka menilai kondisi bisnis di Indonesia pada saat ini sedang melemah.

Namun demikian Indek Harga Saham Gabungan (ISHG) pada perdagangan awal Oktober cukup kuat yang sempat menembus level 5.836, level tersebut tertinggi terbaru sepanjang berdirinya Bursa Efek indonesia (BEI).

Pelemahan itu sendiri terlihat dari para pelaku bisnis lokal yang lebih suka meletakkan modal mereka di bank atau pasar modal ketimbang diputar untuk menjalankan bisnis seperti biasanya.

Pelaku bisnis lokal juga mulai enggan berbisnis di pasar domestik. Itu tampaknya disebabkan oleh pengawasan ketat pemerintah, dalam hal ini pihak otoritas pajak dan bea cukai. Akan tetapi, hal itu adalah salah satu langkah pemerintah untuk mendorong penerimaan pajak.

Ketatnya pemeriksaan barang impor yang dilakukan bea cukai tersebut akan mempersulit pengiriman jenis barang tertentu dari luar negeri, terutama barang yang akan digunakan sebagai modal kerja para pelaku bisnis tersebut di Indonesia.

Selain kondisi yang disebutkan di atas, keenganan investor asing untuk lanjut berinvestasi di sini karena pelaksanaan pembangunan infrastruktur yang tampaknya lebih lambat dari yang diperkirakan.

Disamping itu, program pengampunan pajak yang tidak mampu mendorong kinerja sektor properti di pasar domestik turut mempengaruhi perilaku investor asing dalam berinvestasi di Indonesia pada saat ini.

Kedepan, para investor asing bahkan akan keluar dari Indonesia dan memindahkan investasi mereka ke berbagai aset berdenominasi dolar mengingat adanya potensi kenaikan tingkat suku bunga Federal Reserve (The Fed), bank sentral Amerika Serikat (AS).

Kondisi itu diindikasikan oleh para analis pasar modal dunia yang rata-rata memperkirakan pasar modal dan pasar uang di berbagai negara berkembang akan memasuki masa-masa sulit pada triwulan keempat tahun ini.

Pasalnya, menurut para analis tersebut, kedua pasar di negara-negara berkembang tersebut akan mengalami tiga hal pelemahan yaitu yang disebabkan oleh kenaikan suku bunga The Fed, pemangkasan neraca The Fed dan reformasi pajak yang dilakukan AS.

Semua kemungkinan tersebut berpotensi menekan berbagai kegiatan pelaku bisnis di pasar lokal Indonesia. Akan tetapi, kegiatan mereka kini berpindah ke bursa saham sehingga transaksi bursa semakin membesar dan mampu mendorong IHSG ke titik tertinggi baru.[]

Editor: Rakisa

KOMENTAR ANDA
Berita Nasional Terkini Lainnya
Penyakit difteri mewabah, DPR minta Kemenkes dievaluasi
Politik - Selasa, 12 Desember 2017 - 16:55 WIB

Penyakit difteri mewabah, DPR minta Kemenkes dievaluasi

Wabah penyakit difteri saat ini tangah melanda berbagai daerah di Indonesia. Setidaknya ada 23 provinsi yang melaporkan kejadian luar biasa ...
Komisi VI pertanyakan kelangkaan gas elpiji 3 kilogram
Politik - Selasa, 12 Desember 2017 - 16:51 WIB

Komisi VI pertanyakan kelangkaan gas elpiji 3 kilogram

Anggota Komisi VI DPR Bambang Haryo mengaku kecewa dengan kinerja yang ditunjukan oleh PT Pertamina (Persero) atas kelangkaan Liquefied Petroleum ...
Nah lho, kabar kematian Bahrun Naim adalah hoax
Peristiwa - Selasa, 12 Desember 2017 - 16:41 WIB

Nah lho, kabar kematian Bahrun Naim adalah hoax

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan bahwa kabar tewasnya kombatan Islamic State (IS) asal Indonesia, Bahrun Naim adalah kabar bohong alias ...
Pimpinan DPR pastikan tak ada kocok ulang
Politik - Selasa, 12 Desember 2017 - 16:30 WIB

Pimpinan DPR pastikan tak ada kocok ulang

Wakil Ketua DPR Agus Hermanto mengatakan, tidak ada wacana kocok ulang kursi pimpinan DPR. Yang ada hanya pembahasan pergantian Ketua ...
Pendapatan PLN Distribusi Jabar capai Rp47,07 triliun
Ekonomi - Selasa, 12 Desember 2017 - 15:43 WIB

Pendapatan PLN Distribusi Jabar capai Rp47,07 triliun

Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero Distribusi Jawa Barat membukukan pendapatan perusahaan total Rp47,074 triliun dari total target Rp51 triliun hingga ...
PKS serukan boikot produk AS dan Israel
Politik - Selasa, 12 Desember 2017 - 14:51 WIB

PKS serukan boikot produk AS dan Israel

Pernyataan Donal Trump menjadikan Yerusalem sebagai ibukota Israel adalah ahistoris dan menyiram api di Yerusalem."Akibatnya dunia bergolak dan memprotes pernyataan ...