Rabu, 17 Oktober 2018 | 11.16 WIB
KiniNEWS>Nasional>Peristiwa>Jenazah koruptor tak perlu dishalatkan

Jenazah koruptor tak perlu dishalatkan

Reporter : Zainal Bakri | Sabtu, 11 November 2017 - 13:41 WIB

IMG-27819

Koordinator ICW, Adnan Topan Husodo (kiri), Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Dahniel Simanjuntak dan Ketua KPK Agus Rahardjo (Ant)

Jakarta, kini.co.id – Jenazah pelaku koruptor muslim sebaiknya tak perlu dishalatkan hal ini merujuk sebuah peristiwa Rasullah SAW yang enggan menyolatkan jenazah soerang sahabat, karena saat perang Khaibar sahabat tersebut mengambil ghonima atau harta rampasan perang.

Demikian pandangan tersebut dikemukakan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak.

“Dua tahun lalu di Muktamar Muhammadiyah, saya menyampaikan, bahwa ‘Jenazah koruptor enggak perlu dishalatkan’. Karena dalam hadits, Rasulullah pernah menolak menyalatkan jenazah sahabat, saat itu, pas perang, karena sebelumnya ia mengambil barang-barang rampasan perang,” ujarnya di Jakarta, Jumat (10/11).

Peristiwa tersebut, kata Dahnil, menunjukkan bahwa agama berperan penting dalam memberantas korupsi sesuai konsep tauhid.

“Tidak sah ibadah seorang muslim, kalau dia makan uang hasil korupsi,” tegasnya mengutip salah satu bunyi hadis.

Sayangnya, ungkap dosen Universitas Negeri Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Banten ini, banyak masyarakat yang lebih sensitif pada hal-hal simbolis, dibanding substansial.

“Contohnya, enggak ada da’i atau ustadz yang berani ceramah tentang korupsi. Apalagi, di masjid-masjid pemerintah,” kritiknya.

Padahal, sangat jelas, melawan korupsi merupakan ibadah yang substansi.

Oleh karenanya, Dahnil mendorong generasi milenial, agar memegang teguh prinsipnya. Salah satunya, menjadikan antikorupsi sebagai gaya hidup. “Bagi anak muda, harusnya antikorupsi jadi lifestyle (gaya hidup). Enggak korupsi itu keren. Idealis itu keren,” jelasnya.

Dahnil juga berpandangan bahwa jihad terbesar saat ini adalah melawan nafsu. Dan kemerdekaan yang diperjuangkan para pahlawan merupakan jihad kecil.

“Jadi, perang saat itu, masih jihad kecil. Jihad besarnya, bagaimana mengisi kemerdekaan ini. Salah satunya, melawan korupsi,” tegasnya. []

Editor: Rakisa

KOMENTAR ANDA
Berita Nasional Terkini Lainnya
Peristiwa - Rabu, 17 Oktober 2018 - 11:12 WIB

Polisi Sebut Tersangka Tak Bermaksud Tembak Kaca DPR

Peristiwa penembakan kaca kantor DPR RI sempat menghebohkan publik. Netizen pun bertanya apakah ada maksud pembunuhan atau penembakan misterius di ...
Nasional - Rabu, 17 Oktober 2018 - 09:52 WIB

Sidang IPU 139 Jenewa, Jazuli: 36 Negara Tolak Pelegalan LGBT

Anggota Komisi I DPR RI, Jazuli Juwaini menyebut dalam sidang Inter-Parliamentary Union (IPU) 139 di Jenewa sebanyak 36 negara yang ...
Hukum - Rabu, 17 Oktober 2018 - 09:15 WIB

Berkasus Lagi, KPK Pertimbangkan Tuntutan Hukuman Maksimal terhadap Billy Sindoro

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan mempertimbangkan tuntutan hukuman maksimal kepada Bos Lippo Group, Billy Sindoro. Hal ini ...
- Selasa, 16 Oktober 2018 - 20:05 WIB

KPK sebut Bupati Bekasi tak sampaikan sedang hamil

Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (Jubir KPK), Febri Diansyah mengatakan bahwa selama menjalani pemeriksaan Bupati Bekasi non-aktif, Neneng Hasnah Yasin tidak ...
Peristiwa - Selasa, 16 Oktober 2018 - 19:59 WIB

Ternyata penembak gedung DPR lulus sertifikasi menembak

KETUA Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Bambang Soesatyo menuturkan bahwa terduga penembak peluru nyasar yang mengenai ruang kerja anggota DPR pada ...
Hukum - Selasa, 16 Oktober 2018 - 19:24 WIB

Meikarta, mengejar mimpi beralas upeti

OPERASI tangkap tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap sejumlah pejabat di Kabupaten Bekasi, berbuntut pada penetapan tersangka ...