Monday, 20 August 2018 | 10.34 WIB
KiniNEWS>Nasional>Secangkir Kopi>Angka yang jadi sumber kebencian

Angka yang jadi sumber kebencian

Monday, 4 December 2017 - 07:07 WIB

IMG-28463

Dahlan Iskan. Istimewa

kini.co.id – Angka siapakah yang bisa dipakai pegangan? 7,5 juta? 40.000?. Tentu ini tentang reuni 212. Khususnya tentang berapa orang sebenarnya yang berkumpul di Monas, Jakarta, Sabtu, (2/12) lalu.

Perbedaan angka yang begitu mencolok menimbulkan banyak prasangka. Bahkan sudah ikut menimbulkan kebencian baru.

Yang pro reuni 212 merasa dilecehkan dengan angka 40.000 itu. Lalu membenci orang yang mengatakannya. Bahkan membenci lembaga tempat orang itu bekerja. Yang anti reuni merasa angka 7,5 juta itu hanya omong besar.

Dua-duanya tidak menyertakan argumentasi mengapa sampai pada angka 7,5 juta dan mengapa hanya 40.000.

Di Amerika Serikat juga pernah terjadi seperti itu. Tapi sudah sangat lama. Sekitar 30 tahun lalu. Ketika belum ada Google. Belum ada drone. Belum ada waze.

Yang diperdebatkan saat itu adalah berapa jumlah orang kulit hitam yang menghadiri Million Man March di ‘Monasnya’ Washington DC.

Aksi show of force orang kulit hitam yang merasa sedang tertindas itu sempat dikhawatirkan akan rusuh.

Apalagi salah satu penggeraknya adalah Farakhan, tokoh Islam di AS yang berkulit hitam. Sejak ide Million Man March itu diumumkan pro-kontra meluas. Termasuk di kalangan kulit hitam sendiri.

Meski bentuknya lapangan dan taman terbuka tapi kawasan itu disebut Washington Mall. Letaknya di dekat Gedung Putih dan di tengahnya menjulang monumen nasional. Presiden baru AS biasanya juga disumpah di lapangan terbuka ini.

Hari itu saya sedang di AS. Meski tidak di Washington saya bisa mengikuti hiruk-pikuknya dari media. Atau melihat banyaknya orang kulit hitam yang berangkat dari kota tempat saya tinggal menuju Washington DC.

Terasa nuansa show of force-nya. Terasa juga nuansa untuk membuktikan bahwa angka satu juta itu akan tercapai. Maklum banyak yang meragukan target itu.

Bahkan ada yang memperkirakan acara itu paling banyak hanya akan dihadiri 50.000 orang. Di AS yang masyarakatnya sangat individualistis sulit digerakkan. Apalagi sampai satu juta orang. Mana mungkin satu juta warga kulit hitam bisa berkumpul di Washington Mall.

Rupanya perasaan sedang tertekan menjadi penggerak yang utama. Tuntutan agar tidak ada lagi diskriminasi menjadi topik utama.

Pada hari yang ditentukan itu kota Washington berubah. Washington Mall dibanjiri orang kulit hitam. Panitia merasa puas. Mengklaim yang hadir satu juta lebih.

Tapi pihak yang sejak awal anti gerakan ini tetap sinis. Mereka mengatakan yang hadi hanya 200.000 orang. Panitia marah. Saling serang. Panas.

Untung Amerika memiliki ahli apa pun. Termasuk ahli menghitung kerumunan. Profesor itu turun tangan. Sang ahli menulis di harian USA Today. Dia menyesalkan timbulnya salah paham itu. Sambil menyalahkan media.

Mengapa media tidak berperan sebagai pembawa fakta yang akurat.

Saya masih ingat inti tulisannya tapi lupa siapa nama ahli menghitung kerumunan itu. Menurut dia menghitung kerumunan itu ada teorinya. Wartawan, katanya, meski memiliki kemampuan menghitung kerumunan.

Caranya: perkirakanlah berapa luas lapangan itu. Lalu lihatlah seberapa padat. Apakah mereka berdiri atau duduk. Tingkat kepadatan duduk dan berdiri berbeda. Lalu ambillah beberapa contoh.kepadatan di beberapa titik. Hitunglah per 10 m2 diisi orang berapa. Lalu kalikanlah. Akan bisa diperoleh angka yang mendekati kenyataan.

Menurut perkiraan ahli tersebut jumlah orang kulit hitam yang hadir hari itu tidak sampai satu juta orang tapi juga jauh lebih besar dari 200 ribu orang.

Itu 30 tahun yang lalu.

Kini mestinya lebih mudah. Teknologinya sudah tersedia. Luas lingkaran tugu Monas bisa dihitung dengan mudah. Cukup pakai laptop. Luas jalan-jalan masuk bisa diukur dengan komputer. Tingkat kepadatan orang di masing-masing tempat bisa dilihat dengan drone. Lalu dijumlah.

Angkanya insyaallah tidak banyak meleset.

Ilmu pengetahuan akan menyelesaikan banyak hal. Termasuk menyelesaikan sengketa angka yang bisa menjadi sumber kebencian. Bahkan untuk lokasi seperti Monas baiknya ada pihak yang bisa dijadikan sumber kredibel.

Misalnya berapa kapasitasnya kalau hanya lingkaran tugu Monas. Tiap jalan menuju Monas berkapasitas berapa. Dijumlah. Kapasitas keseluruhannya berapa.

Maka kita pun memiliki pegangan umum.

Seperti kita tahu kapasitas stadion. Wartawan tahu berapa kapasitas stadion di suatu tempat sehingga tidak biasa memperkirakan jumlah orang di suatu kerumunan besar.

Ilmu menghitung kerumunan ini kian penting tahun depan. Terutama bagi wartawan di media yang independen. Banyak kampanye tahun depan.

Bahkan ada baiknya pelatihan menghitung kerumunan menjadi salah satu bagian dari ilmu jurnalistik. Agar media bisa membawa kejernihan. [Dahlan Iskan]

Editor: Rakisa

KOMENTAR ANDA
Berita Nasional Terkini Lainnya
Hukum - Tuesday, 27 March 2018 - 18:22 WIB

KPK Tahan Tujuh Tersangka Kasus Suap DPRD Malang

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) langsung menahan tujuh tersangka kasus dugaan korupsi Malang, Jawa Timur.Ketujuh orang yang dimaksud antara lain enam ...
Peristiwa - Tuesday, 27 March 2018 - 17:47 WIB

Arief Hidayat kembali dilantik jadi hakim MK

Presiden Jokowi kembali melantik Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Arief Hidayat sebagai hakim konstitusi untuk periode kedua, masa bakti 2018-2023. Arief mengucapkan sumpahnya ...
Politik - Tuesday, 27 March 2018 - 17:28 WIB

Bahas RKP 2019, DPD berharap program pemerintah tepat sasaran

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) melihat masih banyak kebijakan pembangunan di daerah yang tidak tepat sasaran. Untuk itu, diharapkan pemerintah dapat ...
Politik - Tuesday, 27 March 2018 - 17:18 WIB

PKS siapkan sembilan nama untuk kalahkan Jokowi di Pilpres 2019

Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera menyatakan ada sembilan nama yang siap ditawarkan untuk posisi calon presiden atau calon ...
Politik - Tuesday, 27 March 2018 - 16:56 WIB

Awasi Pemilu 2019, Bawaslu Mulai Buka Pendaftaran Pemantau

Tahapan pelaksaan Pemilu legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 sudah mulai berjalan. Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) pun mulai membuka ...
Hukum - Tuesday, 27 March 2018 - 16:48 WIB

Tiga Kandidat Deputi Penindakan Jalani Tes Akhir

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah mengantongi nama-nama calon Deputi Penindakan usai ditinggal Inspektur Heru Winarko yang diangkat Presiden Joko Widodo ...
Place your ads here...