Kamis, 22 Februari 2018 | 21.34 WIB
KiniNEWS>Nasional>Peristiwa>Fadli Zon minta pers jaga kehormatan ‘penanya’

Fadli Zon minta pers jaga kehormatan ‘penanya’

Reporter : Bayu Putra | Kamis, 8 Februari 2018 - 17:37 WIB

IMG-30162

Wakil Ketua DPR Fadli Zon. FOTO: Antara/Sigid Kurniawan

Jakarta, kini.co.id – Dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN), Wakil Ketua DPR, Fadli Zon menyatakan, tantangan yang dihadapi oleh pers di tengah iklim demokrasi jauh berbeda dengan tantangan zaman otoritarian. 

“Kita sekarang hidup di tengah demokrasi multipartai,” katanya melalui siaran persnya, di Jakarta, Kamis (8/2).

Menurutnya, iklim demokrasi yang dinikmati saat ini telah mengubah tantangan yang dihadapi oleh industri media. 

Kini, lanjut Fadli Zon, masalah yang dihadapi pers Indonesia bukan lagi represi, sensor, atau kontrol oleh kekuasaan, tapi kontrol dan pemihakan dari pemilik media. 

Jadi, jika dulu demokrasi dirusak oleh adanya dwifungsi ABRI, maka hari ini demokrasi telah dirusak oleh ‘dwifungsi pengusaha-politisi.

“Rangkap posisi antara pemilik media dan politisi itu telah menyulitkan posisi pers kita. Sensor terhadap para jurnalis bukan lagi berasal dari kekuasaan, tapi dari para pemilik media. Dalam situasi tersebut, pers kemudian tak lagi mudah mempertahankan independensinya. Jika tak lagi independen, pers tentu akan kehilangan kredibilitasnya sebagai juru terang masyarakat,” kata Fadli Zon. 

Politisi Gerindra ini mengutip kata-kata Mark Twain yang disitir Presiden Soekarno saat meresmikan pembukaan Jurusan Publisistik di Universitas Indonesia. 

Dengan meminjam Mark Twain, Bung Karno bilang, ‘There are only two things, which can throw light upon things here on earth. Two things, one is the sun in heaven and the second one is the press here on earth.

“Jadi, pers adalah matahari di bumi, juru terang bagi masyarakat. Itu sebabnya, seorang jurnalis harus memiliki pengetahuan umum yang luas serta sudut pandang yang jernih. Dan, di atas semua itu, seorang jurnalis harus independen. Sebab jika tidak independen, pengetahuan dan informasi yang dimilikinya rawan disalahgunakan,” kata Fadli.

Tugas pers, sambungnya, bukanlah menyanjung-nyanjung pemerintah, melainkan jadi corong masyarakat, menyuarakan kebenaran. 

Insan pers mestinya bisa belajar dari figur-figur jurnalis masa lampau, seperti Mochtar Lubis atau bahkan Tirtoadisoerjo. 

Dulu Mochtar Lubis disebut sebagai ‘wartawan jihad’ karena keberaniannya bersikap kritis terhadap kekuasaan, baik terhadap Presiden Soekarno maupun kemudian terhadap Presiden Soeharto, ia selalu bersikap kritis. 

Jihadnya sebagai jurnalis adalah selalu bicara kebenaran dan berusaha memerangi kejahatan, siapa pun pelakunya. Termasuk, jika pelakunya adalah penguasa sekali pun. 

“Itu yang dulu membuat Harian Indonesia Raya berani mengangkat isu korupsi di Pertamina, yang kemudian membuat orang kepercayaan Presiden tersingkir dari posisi Direktur Pertamina,” ungkap Fadli Zon.

Pada masa pergerakan nasional, pers memang erat bersinggungan dengan politik. Tapi politiknya adalah politik kebangsaan, bukan politik partisan. 

Dulu, misalnya, Mohammad Hatta mendirikan Majalah Daulat Ra’jat, atau Soekarno memimpin Fikiran Ra’jat dan Soeloeh Indonesia Moeda. Media-media itu digunakan sebagai alat perjuangan, untuk membela kepentingan rakyat banyak, bukan kepentingan para pemilik modal.

“Jangan sampai kita kembali lagi kepada zaman keemasan pers kolonial dulu, yang sepenuhnya dikendalikan oleh para pemilik modal,” kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini.

Pada awal abad ke-20, Surat Kabar AID de Preanger Bode, misalnya, adalah juru bicaranya para pemodal yang menguasai perkebunan teh, karet dan kina. Sementara, Soerabajaasch Handelsblad, adalah corongnya para pemodal yang menguasai industri gula. Jadi, semua media merupakan juru bicara dari para pemilik modal. Tentu kita tak ingin mengulang lagi semua itu.

“Di hari pers ini, saya ingin mengajak insan pers Indonesia untuk mengingat kembali khittahnya. Jurnalis harus kembali ke barak dan menjaga diri terhadap hegemoni kekuasaan. Rekan-rekan jurnalis harus menjaga kehormatan penanya. Karena sesungguhnya pena jurnalis jauh lebih tajam dari sebilah pedang,” pungkasnya. []

Editor: Rakisa

KOMENTAR ANDA
Berita Nasional Terkini Lainnya
Polemik UU MD3 harus jadi pelajaran bagi DPR
Politik - Kamis, 22 Februari 2018 - 20:01 WIB

Polemik UU MD3 harus jadi pelajaran bagi DPR

Meski telah disahkan, revisi UU MD3 menimbulkan polemik. Beberapa pasal dinilai publik terlalu berlebihan, khususnya dalam hak imunitas anggota DPR. ...
PT Waskita akui lalai dalam pemasangan  girder non standar
Peristiwa - Kamis, 22 Februari 2018 - 19:55 WIB

PT Waskita akui lalai dalam pemasangan girder non standar

PT Waskita Karya (Persero) Tbk mengakui adanya kelalaian dalam sejumlah proyek infrastruktur terutama pengerjaan konstruksi jalan melayang (elevated). Ketelitian pemasangan ...
Elvy Sukaesih akan diperiksa sebagai saksi Dhawiya
Peristiwa - Kamis, 22 Februari 2018 - 19:42 WIB

Elvy Sukaesih akan diperiksa sebagai saksi Dhawiya

Penyidik Polda Metro Jaya bakal memeriksa pedangdut Elvy Sukaesih terkait penyalahgunaan narkoba yang menyeret ketiga anaknya Dhawiya Zaida, Syehan dan Ali Zaenal Abidin."Dipanggil ...
Daftar korban longsor Brebes menurut data sementara  BNPB
Peristiwa - Kamis, 22 Februari 2018 - 19:31 WIB

Daftar korban longsor Brebes menurut data sementara BNPB

Tim SAR gabungan hingga saat ini masih terus melakukan upaya pencarian, penyelamatan dan evakuasi korban longsor di Desa Pasir ...
Banyak Politisi yang Numpang Tenar, Novel Diminta Hati- hati
Politik - Kamis, 22 Februari 2018 - 19:16 WIB

Banyak Politisi yang Numpang Tenar, Novel Diminta Hati- hati

Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan telah kembali ke Indonesia setelah 10 bulan lamanya menjalani perawatan di RS ...
Kembali ke Indonesia, KPK Pastikan Keamanan Novel Baswedan
Peristiwa - Kamis, 22 Februari 2018 - 16:04 WIB

Kembali ke Indonesia, KPK Pastikan Keamanan Novel Baswedan

Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan telah kembali ke tanah air setelah melakukan perawatan di sebuah Rumah Sakit ...