Sabtu, 20 Oktober 2018 | 10.17 WIB
KiniNEWS>Nasional>Hukum>Gertak basa basi ala Amien Rais

Gertak basa basi ala Amien Rais

Reporter : Emerson Tarihoran | Rabu, 10 Oktober 2018 - 23:33 WIB

IMG-28994

Muhammad Amien Rais bersama pendukungnya saat memberikan keterangan di Mapolda Metro, Rabu (10/10/2018).

JAKARTA, kini.co.id

BEBERAPA jam sebelum memenuhi panggilan Polda Metro, (Rabu, 10/10/2018), Muhammad Amien Rais menebar gertakan adu-domba institusi Polri dengan Komisi Pembrantasan Korupsi (KPK). Kapolri, katanya, terlibat dalam suap kasus suap impor daging yang ditangani KPK.

Terlihat sangat, Amien Rais seperti anak yang akan dihukum ayahnya, lalu sekonyong-konyong mendatangi ibunya sambil memberitahu bahwa ayahnya pernah berduaan dengan wanita lain. Sambil berharap ibunya akan marah pada ayahnya, si anak merasa kuat dalam menghadapi ancaman hukuman sang ayah.

Lucu bukan, karena Amien Rais adalah politikus gaek yang, katanya, seorang tokoh reformasi. Bukan saja dia harusnya aktif dengan menyerahkan bukti agar mendorong institusi KPK menuntaskan kasus yang ditangani. Tapi malah melucu, Amien Rais baru sesumbar akan menyerahkan bukti saat dia terlihat tidak siap mental menghadapi pemanggilan polisi dalam kaitan kasus hoax Ratna Sarumpaet.

Tudingan Amien Rais yang menyebut Jendral Pol Tito Karnavian terlibat dalam kasus Basuki Hariman di KPK, jelas sekali merupakan pengalihan isu hoax Ratna Sarumpaet. Manuver yang dilakukan oleh seorang Amien Rais yang runtuh integritasnya dalam menghadapi hukum.

Dipanggilnya Amien Rais sebagai saksi dalam kasus hoax Ratna Sarumpaet adalah hal yang wajar dalam mekanisme hukum. Namun jika Amien Rais melakukan manuver dengan mengeluarkan gertak basa basi seolah Kapolri aktif sedang dalam ‘genggamaan’nya, justru menunjukkan ada motif lain yang perlu digali.

Dari beberapa waktu lalu, tudingan keterlibatan Kapolri Jenderal Tito Karnavian seperti diungkap Indonesialeaks dan dipersoalkan Amien Rais, tidak bisa dibuktikan. Pengawas Internal KPK telah melakukan pemeriksaan terhadap hasil investigasi Indonesialeaks soal perobekan terhadap buku bersampul merah yang diduga berisi catatan aliran dana pengusaha Basuki Hariman kepada sejumlah pejabat negara.

Ketua KPK, Agus Rahardjo menjelaskan peristiwa dugaan penyobekan buku itu sudah terjadi lebih dari satu tahun yang lalu. Saat itu, pengawas internal (PI) juga sudah memeriksa kamera CCTV. Namun, menurut Agus, hasil pemeriksaan menunjukkan tidak terlihat ada perobekan yang diduga dilakukan dua penyidik KPK asal Polri yaitu Ronald Rolandy dan Harun.

“Pengawas internal sudah memeriksa kamera, kamera memang terekam, tapi penyobekan tidak terlihat dikamera itu,” kata Agus. Jadi, dari keterangan dan penelusuran kedua institusi, tuduhan penghilangan barang bukti itu tidak ada. Jadi, clear, tidak ada masalah dan bukti yang dapat menyeret Kapolri Tito dalam kasus yang diumbar oleh Amien Rais.

Kembali ke kasus hoax Ratna Sarumpaet, seharusnya Amien Rais tidak perlu membenturkan Polri dengan KPK. Sebab justru Amien bisa menunjukkan dirinya adalah korban dari kebohongan Ratna Sarumpaet. Bahkan jika tidak dipanggil sebagai sakis, Amien Rais perlu membuat laporan penipuan yang dilakukan oleh Ratna Sarumpaet untuk membuktikan bahwa dia adalah korban, bukan merupakan bagian dari kebohongan tersebut.

Manuver Amien Rais yang mengungkit kasus lama yang telah diproses oleh KPK, selain menunjukkan bahwa Amien Rais ingin mengalihkan isu, juga menunjukkan bahwa Amien Rais melakukan politik adu domba antara lembaga Polri dengan KPK. Kuat dugaan bahwa jika isu yang dilempar oleh Amien Rais mendapat simpati dari publik, maka akan tercipta ketegangan antara KPK dengan Polri.

Amien Rais, sebagai kalangan cendekiawan seharusnya menghargai langkah yang dilakukan oleh Polri dalam melaksanakan prinsip kesetaraan di hadapan hukum. Kebohongan Ratna Sarumpaet yang sudah membuat gaduh, bahkan membuat malu para tokoh-tokoh politik, sangat layak untuk diproses hukum. Proses hukum yang memerlukan prinsip kesetaraan di hadapan hukum ini harus dijunjung tinggi dan dihargai, bukan malah diganggu dengan mengadu Polri dengan lembaga lain.

Dalam situasi politik yang cenderung memanas menuju Pilpres 2019 ini sudah selayaknya semua komponen bangsa mampu menahan diri untuk memprovokasi dan bertindak kontra produktif. Gunakan cara-cara yang positif dan konstruktif sehingga kualitas demokrasi Indonesia meningkat dan lebih baik.

Syukurlah, Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri) tak mau ambil pusing dengan basa basi ancaman dari Amien Rais. “Ya kalau dipelajari tentu kita akan pelajari, tapi kalau memang itu hoax ya nanti kita buang. Gitu kan. Kita nggak akan membuang-buang waktu yang tidak perlu,” ujar Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto.

Kepolisian saat ini, katanya, fokus menuntaskan kasus hoaks penganiayaan yang dilakukan Ratna Sarumpaet. “Sekarang kita fokus ke masalah yang kasus menghebohkan ini Ratna Sarumpaet. Kita fokuskan dulu ke situ,” sebut Setyo. Pihaknya ingin serius menangani perkara ini dengan memeriksa sejumlah pihak yang disebut oleh Ratna. “Kita minta klarifikasinya, dan mohon kerja sama untuk memberikan klarifikasi sebenar-benarnya sehingga semuanya bisa terang benderang kasus ini,” tutur Setyo.

Setuju, karena Polri tidak punya waktu melayani isu murahan yang dilempar dengan cara tidak terpuji. Ancaman Drajad Wibowo yang menyatakan: “Kapolri akan menyesal telah memanggil Amien Rais,” semakin menunjukkan bahwa cara-cara basi tidak dibutuhkan lagi saat ini. Polri, KPK, bersama pemerintah secara keseluruhan, sedang memiliki agenda besar, yakni menjadikan Indonesia sebagai negara maju dan disegani dunia.

Editor: Emerson

KOMENTAR ANDA
Berita Nasional Terkini Lainnya
Politik - Jumat, 19 Oktober 2018 - 17:17 WIB

Kader PKS kecewa kursi Wagub DKI tidak kunjung diberikan Gerindra

SEJUMLAH kader DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jakarta Timur disebut kecewa dan kesal lantaran Partai Gerindra tak kunjung memberikan kursi ...
Peristiwa - Jumat, 19 Oktober 2018 - 14:29 WIB

Ketua DPR Pastikan Insiden Peluru Nyasar Bukan Ulah Teroris

Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo (Bamsoet) memastikan insiden peluru nyasar di beberapa ruang kerja anggota dewan tidak terkait dengan aksi ...
Hukum - Jumat, 19 Oktober 2018 - 13:51 WIB

Masa Tahanan Eks Dirut Pertamina Diperpanjang 40 Hari

Masa tahanan Eks Dirut PT Pertamina (Persero), Karen Galaila Agustiawan diperpanjang sampai 22 November 2018. Kejaksaan Agung melakukan perpanjangan masa ...
Politik - Jumat, 19 Oktober 2018 - 13:39 WIB

DPR Sebut Pemasangan Kaca Anti Peluru Bisa Batal

Ketua Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR Anton Sihombing mengatakan, wacana pemasangan kaca antipeluru di Gedung Nusantara I DPR bisa ...
Politik - Jumat, 19 Oktober 2018 - 13:30 WIB

Awas, Libatkan Anak Kampanye Politik Bisa Dipidana

Anak-anak tidak diperkenankan untuk terlibat dalam kegiatan politik. Jika para orangtua melibatkan anaknya dalam kegiatan politik seperti kampanye atau apapun, ...
Politik - Jumat, 19 Oktober 2018 - 12:06 WIB

Incar Kursi Wagub DKI, Gerindra-PKS Yakin Tetap Mesra

Sepeninggal Sandiaga Uno, kursi Wakil Gubernur DKI kini menjadi incaran. Adalah dua partai yakni PKS dan Gerindra yang kini masih ...