Selasa, 18 Desember 2018 | 23.18 WIB
KiniNEWS>Nasional>Peristiwa>Bantai Puluhan Pekerja Trans Papua, Ini yang Diinginkan OPM

Bantai Puluhan Pekerja Trans Papua, Ini yang Diinginkan OPM

Reporter : Redaksi | Kamis, 6 Desember 2018 - 07:21 WIB

IMG-30404

Ilustrasi

Wamena, kini.co.id – Pembantaian puluhan pekerja di pembangunan jembatan Trans Papua beberapa waktu lalu menyisakan persoalan besar. Di satu sisi pemerintah sedang berjuang membangun infrastruktur di sana, saat itu pula kelompok-kelompok kriminal menginginkan hal lain.

Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang diduga menjadi dalang pembunuhan puluhan pekerja itu menyebut terang-terangan mereka ingin perang tanpa melibatkan warga sipil.

Mereka juga menyebut tidak menginginkan Trans Papua.

Hal itu tertuang dalam keterangan tertulis Juru Bicara Kelompok OPM Sebby Sambom, kemarin.

Sebby menyebut mereka hanya menginginkan kemerdekaan, yakni menjadi negara Republik West Papua (Papua Barat).

“Kami tidak minta Jalan Trans (Papua) dan pembangunan, namun solusi masalah Papua adalah kemerdekaan dan berdaulat sendiri sebagai bangsa yang beradab,” kata dia.

Lebih lanjut, terkait pembunuhan para pekerja itu, Sebby menyebut pihaknya sudah lama mengintai para pekerja dan mereka menyebut para pekerja itu adalah TNI yang menyamar. Sehingga ia mengklaim serangan pada 1 dan 2 Desember 2018 yang dipimpin Egianus Kogoya itu tidak salah sasaran.

“Kami tahu bahwa yang bekerja selama ini untuk Jalan Trans (Papua) dan jembatan-jembatan yang ada di sepanjang Jalan Habema Juguru Kenyam Batas Batu adalah murni Anggota TNI (SIPUR). Serangan pihak OPM tidak salah, dan OPM tahu mana pekerja sipil atau tukang biasa, dan mana pekerja anggota TNI, walaupun mereka berpakaian sipil atau preman,” lanjut Sebby.

Ia pun menekankan kepada TNI/Polri untuk berperang secara jantan untuk tidak melibatkan warga sipil.

“Kami tidak akan berperang melawan warga sipil yang tidak seimbang dan sepadan. Untuk itu kami imbau kepada pihak TNI/Polri Kolonial Indonesia bahwa berperang lah secara gentleman (jantan) dan bertanggung jawab menjunjung tinggi hukum humanisme internasional,” tutur Sebby.

Sebelumnya, beredar kabar ada 31 pekerja yang tewas dibantai Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Nduga. Para pekerja ini bekerja dalam pembangunan jembatan Trans Papua.

Belakangan, Kapolri Jendral Tito Karnavian mengatakan jumlah korban tewas dalam serangan itu adalah 20 orang, terdiri dari 19 pekerja dan seorang prajurit TNI.

Editor: Fatimah

KOMENTAR ANDA
Berita Nasional Terkini Lainnya
Hukum - Selasa, 18 Desember 2018 - 21:54 WIB

KPK banding vonis Johanes Kotjo

KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) ajukan banding terhadap putusan tingkat pertama pemilik saham Blackgold Natural Resources Johanes Budisutrisno Kotjo dalam kasus ...
Hukum - Selasa, 18 Desember 2018 - 21:37 WIB

Kuasa hukum pastikan Bahar bin Smith ditahan di Polda Jabar

POLISI melakukan penahanan terhadap penceramah Habib Bahar Bin Smith, dalam kasus dugaan penganiayaan. Penahanan Bahar Bin Smith dikonfirmasi usai penceramah ...
Hukum - Selasa, 18 Desember 2018 - 16:41 WIB

KPK Tak Pungkiri Buka Lidik Baru Kasus PLTU Riau-1

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tak memungkiri bahwa pihaknya tengah melakukan penyelidikan baru di kasus suap PLTU Riau-I. Arah pengembangan itu ...
Hukum - Selasa, 18 Desember 2018 - 16:38 WIB

Setnov Tak Tahu Menahu Soal Bilik Asmara di Lapas Sukamiskin

Narapidana kasus korupsi proyek pengadaan Kartu Tanda Penduduk berbasis elektronik (e-KTP), Setya Novanto mengaku tidak tahu menahu soal adanya kamar ...
Politik - Selasa, 18 Desember 2018 - 15:41 WIB

Lambaga Legislatif RI Kompak Bersama Gelar Refleksi Akhir Tahun

Ketua DPD RI Oesman Sapta menyebutkan di tahun politik media memegang peranan melawan berita hoax, saat menghadiri Refleksi Akhir Tahun ...
Politik - Selasa, 18 Desember 2018 - 13:50 WIB

Komisi I DPR Minta KBRI Pulangkan 3 WNI Dari Laos

Anggota DPR RI, Bobby Adhityo Rizaldi mendesak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Vientiane, Laos memulangkan tiga WNI yang masih ...